Biaya Masuk SMA Kembali Mahal seperti Dulu, Kang Dedi Prihatin

Biaya Masuk SMA Kembali Mahal seperti Dulu, Kang Dedi Prihatin

Biaya Masuk SMA Kembali Mahal seperti Dulu, Kang Dedi Prihatin

Biaya Masuk SMA Kembali Mahal seperti Dulu, Kang Dedi Prihatin
Biaya Masuk SMA Kembali Mahal seperti Dulu, Kang Dedi Prihatin

‎Proses penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahun ajaran 2017/2018 telah usai.

Sayangnya, indikasi dugaan kecurangan masih mewarnai saat proses pendaftaran itu berlangsung. Seperti yang terjadi di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.

Sejumlah orangtua siswa mengeluhkan, masih terjadinya dugaan jual beli bangku. Ya, bagi mereka yang ingin anak-anaknya diterima belajar di sekolah tersebut, harus menyediakan uang dengan jumlah cukup besar. Tak tanggung-tanggung, nilainya di angka Rp9 juta.

Contoh kasus, seperti yang dialami salah satu orangtua siswa‎ yang meminta namanya

tidak dipublikasikan. Pria yang merupakan warga Kelurahan Ciseureuh, Kecamatan Purwakarta itu berujar, kondisi SMA/SMK di daerahnya tak lagi seperti dulu. Saat ini, untuk masuk sekolah saja orangtua dipusingkan dengan berbagai biaya.

“Dulu, pungutan-pungutan seperti ini nyaris tidak ada. Karena, kabarnya seluruh biaya untuk pendidikan hingga tingkat SMA sudah ditanggung oleh pemerintah. Sekarang mah balik lagi, khusus ke SMA, orangtua siswa kembali harus menanggung semuanya,”‎ ujar pria berperawakan kecil ini, Selasa (11/7/2017).

Dia mengaku, ‎bukannya tak mau menyediakan uang untuk sekolah anak di SMK tersebut.

Menurut dia, demi anak kalau ada uangnya pasti dipenuhi. Tapi kalau jumlahnya sebesar itu, dia harus pikir-pikir. Karena, uang dari mana‎. Mungkin, kata dia,

bukan hanya dirinya saja yang merasa kecewa, orangtua murid lain yang anaknya tak bisa masuk ke SMKN itu pun merasakan hal sama.

“Kalau yang mampu, mungkin bisa memenuhi persyaratan tersebut. Nah, kalau yang tidak mampu bagaimana?,” kata dia bertanya-tanya.

Sementara itu, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi mengakui kondisi tersebut. Bahkan, kata dia, sejak dimulainya proses PPDB dirinya banyak mendapat keluhan. Kebanyakan, dari orangtua yang hendak memasukan anaknya ke jenjang pendidikan SMA.

“Menyikapi persoalan di SMA, kami tidak bisa berbuat banyak. Karena kan sekarang pengelolaannya ada di tingkat provinsi,” ujar Dedi.

Saat ini, Dedi mengaku sangat sedih. Karena, ‎sekarang itu biaya pendidikan untuk SMA kembali mahal. Orangtua kembali harus dibebani‎ biaya untuk menyekolahkan anaknya. Dari mulai harus membayar uang bangunan (DSP) dan iuran bulanan (SPP).

“Sekarang, sekolah di SMA itu sudah mulai seperti dulu. ‎Jadi, basiknya lebih ke bisnis,” seloroh dia.

Tapi, mau bagaimana lagi. Sekarang, kata dia, Pemerintah daerah tidak bisa intervensi soal kebijakan SMA/SMK. Padahal, dulu sebelum pengelolaannya diserahkan ke provinsi, program wajib belajar 12 tahun di wilayahnya sudah berjalan. Dalam hal ini, pemerintah membebaskan seluruh biaya pendidikan hingga tingkat SMA.

“Saat ini, kewenangan kami hanya SD dan SMP saja. Untuk SMA kami tidak bisa berbuat banyak,” pungkasnya.‎

 

Sumber :

https://www.okeynotes.com/blogs/212521/21233/fungsi-sitoplasma