Dakwah Berbasis Multikulturalisme

Dakwah Berbasis Multikulturalisme

 

Dakwah Berbasis Multikulturalisme
Dakwah Berbasis Multikulturalisme

Karakteristik Dakwah Berbasis Multikulturalisme

Dalam pendekatan dakwah berbasis multikulturalisme ada empat ciri khas, yaitu :
Pertama, mengakui dan menghargai keunikan dan keragaman etno-religio. Masing-masing budaya dan keyakinan yang dimiliki agama, menjadi sesuatu yang sangat dihargai dan dihormati. Kedua, mengakui adanya titik kesamaan dalam keragaman etno-religio. Dalam pendekatan, multikulturalisme, diakui adanya titiktitik kesamaan antara pelbagai keyakinan dan kultur yang beraneka ragam di samping juga tidak ditola adanya aspek-aspek yang tidak mungkin dikompromikan. Ketiga, paradigma fenomena keberagamaan sebagai kultur. Pendekatan multikulturalisme mencoba memahami tingkah laku umat beragama sebagai sebuah fenomena kultur. Agama dan budaya saling mempengaruhi. Pendekatan multikulturalisme berusaha memahami dan mengakomodasi perbedaan-perbedaan keyakinan tersebut dalam konsep dan bingkai budaya yang mendukung adanya toleransi (tasamuh). Keempat, kemestian progesivisme dan dinamisme dalam memahami agama. Karena yang dilihat melalui pendekatan multikulturalisme adalah tingkah laku beragama sebagai sebuah kultur. Pendekatan multikulturalisme memiliki sifat dinamis-progesif, yang bermakna bahwa setiap kebudayaan agama itu adalah suatu proses yang tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan, sejalan dengan pemahaman dan penghayatan tentang agama dan interaksi antar sesame, dan seiring dengan dinamika dan perkembangan zaman.

Baca Juga: https://www.pendidik.co.id/mukadimah/

Pendekatan Dakwah Berbasis Multikulturalisme

Ada beberapa pendekatan dalam kegiatan dakwah berbasis mulikulturalisme, diantaranya :
1) pemikiran dakwah berbasis multikulturalisme berbeda dengan pemikiran dakwah konvensional yang menempatkan konversi iman sebagai inti dari dakwah. Akah tetapi, dakwah berbasis multikulturalisme menekankan agar target dakwah lebih diarahkan pada pemberdayaan kualitas umat dalam ranah internal, dan kerjasama serta dialog antar agama dan budaya dalam ranah eksternal. Pendekatan dakwah multikultural, menilai bahwa fenomena konversi non muslim menjadi muslim adalah efek samping dari tujuan dakwah, dan bukan menjadi tujuan utama dalam dakwah. Sehingga orientasi sasaran dakwah tidak menekankan pada aspek kuantitas sasaran dakwah, melainkan lebih pada kualitas sasaran dakwah.
2) dalam ranah kebijakan publik, dakwah multikultural menggagas ide tentang kesetaraan hak-hak warga negara, termauk hak-hak kelompok minoritas. Tujuannya, agar tidak ada upaya penindasan dari kaum mayoritas terhadap kaum minoritas.
3) dalam ranah sosial. Dakwah berbasis multikulturalisme memilih pendekatan kultural yang mengedepankan strategi sosialisasi Islam sebagai bagian integral umat, dan bukan sesuatu yang asing melalui pengembangan gagasan Islam sebagai sistem moral.
4) dalam konteks pergaulan global. Dakwah multikulturalisme menggagas ide dialog antar budaya dan agama. Hal ini, bertujuan untuk merespon fenomena globalisasi yang dari hari ke hari sekat pembatas antarbudaya dan antar agama mulai hilang.