Dasar-dasar Ketentuan Muhkam Mutasyabih, Cara Mengetahui & Hikmah

Dasar-dasar Ketentuan Muhkam Mutasyabih

Dasar-dasar Ketentuan Muhkam Mutasyabih, Cara Mengetahui & Hikmah

Dasar-dasar Ketentuan Muhkam Mutasyabih
Dasar-dasar Ketentuan Muhkam Mutasyabih

Dasar-dasar Ketentuan Muhkam Mutasyabih

Ada beberapa hujjah yang menjadi rujukan pengelompokan ayat-ayat al-ur’an ke dalam ayat muhkamat dan mutasyabihat, antara lain:

Pertama: firman Allah dalam QS. Ali Imron ayat 7

هُوَ الَّذِيَ أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ
“Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat , itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat.”

Kedua, hadits yang dikeluarkan oleh Ibnu Mardawaih

Yang artinya; “sesungguhnya al Qur’an tidak diturunkan agar sebagian mendustakan sebagian yang yang lain; apa yang kamu ketahui darinya maka kerjakanlah dan yang mutsayabih hendaklah kamu imani.”

Ketiga, hadis yang dikeluarkan oleh Imam al Hakim

Yang artinya; “adalah kitab terdahulu diturunkan dari satu pintu dan dalam satu huruf, tetapi al Qur’an diturunkan dari tujuh pintu dan tujuhhuruf, perintah, haram, muhkam, mutasyabih dan amtsal, maka halalkan apa yang dihalalkan, haramkanlah apa yang diharamkan, lakukan apa yang diperintahkan, jauhilah apa yang dilarang. Ambilah pelajaran dari mutasyabihnya dan ucapkanlah: kami mengimaninya, semua datang dari Rabb kami.”

Keempat, Atsar yang dikeluarkan oleh Imam ad Darimi. Yang artinya; “Dari Umar bin Khattab ra berkata: Akan datang kepada kalian orang-orang yang mendebat kalian dengan ayat-ayat mutasyabihat yang ada dalam al Qur’an, maka bawalah mereka kepada sunnah, karena ahlisunnah itu lebih mengetahui tentang kitab Allah SWT.”

Cara Mengetahui Mutasyabihat

Dalam masalah ini, para ahli tafsir juga terbagi beberapa pendapat, antara lain:
Pertama, Jumhur ulama berpendapat bahwa ayat mutasyabihat itu tidak ada yang mengetahui kecualiAllah SWT. Mereka mengharuskan wakaf pada ayat: وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ اللّهُ kemudian Ibtida’ pada lafadz: وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ.
Kedua, Abu Hasan Asy’ari berpendapat bahwa wakaf hendaklah pada وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ. Jadi pengertiannya bahwa orang-orang yang rasakh ilmunya itu mengetahui juga takwil mutasyabihat. Pendapat ini juga telah dijelaskan oleh Abu Ihak Asyirozi dan didukungnya. Sebagian ahli menyatakan, bahwa di dalam al-Qur’an tidak ada sesuatu yang tidak dapat dipahami maknanya, sebab kalau begitu berarti al-Qur’an keluar dari fungsinya sebagai بَيَانٌ لِّلنَّاسِ, atau penjelasan bagi umat manusia.

Ketiga, ar-Raghib al-Asyfahani berpendapat dengan metode menghindarkan ifrat dan tafrit. Beliau membagi menjadi mutassyabih dari segi kemungkinan mengetahui maknanya kepada tiga bagian: 1) Tidak ada jalan untyuk mengetahuinya seperti terjadinya kiamat, keluarnya binatang dari bumi dan lain sebagainya. 2) Manusia dapat menemukan cara untuk mengetahuinya seperti lafal-lafal yang ganjil dan hukum-hukum yang rumit. 3) Hanya diketahui oleh orang-orang yang rasikh ilmunya, seperti Ibnu Abbas yang oleh Nabi di do’akan dengan: اللهم فقه في الدين وعلمه التأويل.

Baca Juga: Sayyidul Istigfar

Hikmah mengetahui Mutasyabihat

Para Ulama menyebutkan hikmah adanya ayat-ayat mutasyabihat, antara lain:
Pertama, untuk menambah pahala, karena dengan adanya ayat mutasyabihat mengharuskan tambahan daya dan upaya dalam mengungkap maksudnya.

Kedua, kalau tidak ada ayat mutasyabih, tentu umat islam hanya ada dalam satu madzhab. Tetapi dengan adanya ayat mutasyabihat dan muhkamat, maka masing-masing penganut madzhab akan mendapat dalai yang menguatkan pendapatnya. Dengan usaha terus menerus menggali seperti itu.

Ketiga, supaya tumbuh berkembang ilmu-ilmu baru. Dengan adanya ayat mutasyabihat, dengan metode tafsir dan tarjih antara satu dengan lainya. Oleh karena itu lalu tumbuh ilu bahasa, gramatika, ma’ani, bayan, ushul fiqih dan sebagainya.
Keempat, supaya terpenuhi kebutuhan segala lapisan objek dakwah. Dari kalangan awam, tidak bisa memahami sifat-sifat Allah yang tidak bertubuh, tidak bertempat, tidak begini-begitu dan sebagainya. Maka ayat-ayat mutasyabihat menjelaskan sifat-sifat Allah dengan madzhar ibady seperti kata-kata bertangan, berseayam, bermata dan lain-lain, untuk mendekatkan pendekatan orang-orang awam. Sebab bagi orang awam, penjelasan sifat Allah dengan madzhar hakiki sangat sulit dipahami.