Definisi Public Relations

Definisi Public Relations
Definisi Public Relations

Public relations (PR) yang diterjemahkan bebas menjadi hubungan masyarakat (Humas), terdiri dari semua bentuk komunikasi yang terselenggara antara organisasi yang bersangkutan dengan siapa saja yang berkepentingan dengannya (Anggoro, 2001: 1).

PR merupakan suatu seni dan ilmu pengetahuan yang menerapkan program-program PR secara terencana dan berkesinambungan. PR suatu organisasi atau perusahaan berupaya melakukan hubungan yang baik dengan publik dan menjaga citra organisasi atau perusahaan. Di dalam melaksanakan programnya, PR melakukan komunikasi yang persuasif dan efektif melalui media yang tepat.

Ada ratusan definisi PR ditulis orang dalam upaya mereka mendapatkan intisari hubungan masyarakat, dengan cara membuat daftar aktivitas utama yang membentuk praktek ini. Dr. Rex F. Harlow, ilmuwan dan tokoh profesional PR kawakan yang mengumpulkan definisi yang ditulis sejak awal 1900-an dan 1976, mengidentifikasi unsur-unsur utama dari setiap definisi, dan mengklasifikasi gagasan utamanya. Ia berkata bahwa ia akan berupaya untuk mengatakan apa itu PR, dan bukan apa yang dilakukan PR. Tetapi setelah menganalisis 472 definisi, ia membuat satu definisi yang mencakup aspek konseptual dan operasionalnya, yaitu:

PR is a distinctive management function which helps establish and maintain mutual lines of communication, understanding, acceptance and co-operation between an organisation and its publics; involves the management of problems or issues; helps management to keep informed on and responsive to public opinion; defines and emphasises the responsibility of management to serve the public interest; helps management keep abreast of and effectively utilise change, serving as an early warning system to help anticipate trends; and uses research and ethical communication techniques as its principal tools. (Theaker, 2001: 3).

Kata kunci dari definisi ini adalah management function, dimana PR membantu manajemen dalam proses komunikasi antara perusahaan dengan publiknya. PR juga harus dapat menjalin hubungan yang baik dengan publik perusahaan, sehingga terdapat saling pengertian antara perusahaan dengan publiknya.
Untuk lebih memahami PR, berikut beberapa definisi PR yang diambil dari beberapa literatur.

Pada pertemuan asosiasi-asosiasi PR seluruh dunia (World Assembly of PR Associations) di Mexico City, Agustus 1978, ditetapkan definisi PR sebagai berikut:

“Public relations is the art and social science of analysing trends, predicting their consequences, counselling organisation leaders and implementing planned programmes of action which serve both the organisation’s and the public interest” (Theaker, 2001: 4).

Theaker menekankankan bahwa: the words ‘art’ and ‘social science’ are helpful in explaining the continuing tension between understanding PR as measurable, science-based application of communication tools, and the affection of many practitioners for the looser, more creative, aspects of the work.

PR dikatakan seni karena PR menggunakan teknik dan media komunikasi yang berbeda kepada setiap publik perusahaan. Kemampuan dan keahlian berkomunikasi harus dimiliki PR dengan mempelajari ilmu komunikasi. Tanpa ilmu, PR sulit menjalankan tugasnya. Begitu pula, jika hanya mengandalkan ‘intuisi’ dan ‘pengalaman’, PR bekerja hanya pada tahap teknis tanpa memahami filosofi dan aspek dasar dari fungsi dan tugas PR.

Pada November 1982, Public Relations Society of America (PRSA) secara formal mengadopsi “Pernyataan Resmi tentang PR”. Sebagai fungsi manajemen, PR mencakup hal-hal berikut ini:

Anticipating, analyzing and interpreting public opinion, attitudes and issues that might impact, for good or ill, the operations and plans of the organization.
Counseling management at all levels in the organization with regard to policy decisions, courses of action and communication, taking into account their public ramifications and the organization’s social or citizenship responsibilities.
Researching, conducting and evaluating, on a continuing basis, programs of action and communication to achieve the informed public understanding necessary to the success of an organization’s aims. These may include marketing, financial, fund raising, employee, community or government relations and other programs.
Planning and implementing the organization’s efforts to influence or change public policy.
Setting objectives, planning, budgeting, recruiting and training staff, developing facilities — in short, managing the resources needed to perform all of the above.
Examples of the knowledge that may be required in the professional practice of public relations include communication arts, psychology, social psychology, sociology, political science, economics and the principles of management and ethics. Technical knowledge and skills are required for opinion research, public-issues analysis, media relations, direct mail, institutional advertising, publications, film/video productions, special events, speeches and presentations.

Mengantisipasi, menganalisa, dan menerjemahkan pendapat publik, sikap, dan masalah yang mungkin berdampak baik ataupun buruk terhadap jalan serta rencana organisasi.
Memberi anjuran kepada manajemen pada semua jenjang di dalam organisasi, dengan memperhatikan keputusan kebijaksanaan, rangkaian tindakan, dan komunikasi, dengan memperhitungkan percabangan masyarakatnya dan tanggung jawab sosial, atau tanggung jawab kewarganegaraan.
Meneliti, melaksanakan, dan mengevaluasi program tindakan dan komunikasi secara berkelanjutan, agar masyarakat yang diberi informasi memperoleh pemahaman, sehingga tujuan organisasi tercapai. Program-program itu dapat mencakup pemasaran, keuangan, pengumpulan dana, hubungan dengan karyawan atau pemerintah, dan lainnya.
Membuat rencana dan menerapkan upaya organisasi untuk mempengaruhi atau mengubah kebijakan umum.
Menentukan sasaran, membuat rencana, membuat anggaran, menyaring dan melatih staf, mengembangkan fasilitas. Singkatnya, mengelola sumber daya yang diperlukan untuk melaksanakan semua yang disebutkan di atas.
Contoh pengetahuan yang diperlukan dalam praktek profesional PR mencakup seni komunikasi, psikologi, psikologi sosial, sosiologi, ilmu politik, ilmu ekonomi, dan prinsip-prinsip serta etika manajemen. Pengetahuan serta keterampilan teknis diperlukan untuk penelitian pendapat, analisis masalah masyarakat, hubungan media, direct mail, iklan kelembagaan, penerbitan, pembuatan film/video, peristiwa-peristiwa khusus, pidato, dan presentasi (Cutlip, Center & Broom, 2005: 5).

 

PR adalah fungsi manajemen, bukan sekedar pekerjaan teknis.

Pernyataan ini didukung oleh definisi dari PRSA, bahwa PR harus dapat menerjemahkan pendapat publik, mengevaluasi program komunikasi, serta mempengaruhi dan mengubah kebijakan umum. Fungsi-fungsi manajemen ini membutuhkan pengetahuan dan wawasan yang luas, serta kemampuan berpikir dan analisa yang baik.

Menurut definisi kamus terbitan Institute of Public Relations (IPR), yakni sebuah lembaga PR terkemuka di Inggris dan Eropa yang berdiri sejak 1948, terbitan bulan November 1987, bahwa: “Public relations is the planned and sustained effort to establish and maintain goodwill and understanding between an organisation and its publics” (Theaker, 2001: 4).

Theaker menjelaskan lebih lanjut bahwa: there are several key words noting here: ‘planned’ and ‘sustained’ suggest these relationships are not automatic or effortless. Indeed, they have to be ‘established’ and ‘maintained’. Public relations work exists in time—it is not a series of unrelated events. Also note that the aim is not popularity or approval, but goodwill and understanding. Many think that PR is just about promoting an organisation, whereas most PR work involves ensuring publics have an accurate view of the organisation, even if they don’t it might hope to be respected, or at least understood.

The definition also raises that strange word ‘publics’, which will be discussed more fully elsewhere. It is important, however, to stress that public relations is not about dealing with ‘the public’ as people often think. In PR we say there is no such thing as the public—there are instead many different groups of people—not just consumers, but suppliers, employees, trustees, members, local and national trade and political bodies, local resident, among many others. One of the key concepts of PR is the idea that these groups—or publics—have different information needs and exert different demands on organisations. Understanding these differences is a vital skill of PR.

Menurut Frank Jefkins (2004: 10): “PR adalah semua bentuk komunikasi yang terencana, baik itu ke dalam maupun ke luar, antara suatu organisasi dengan semua khalayaknya dalam rangka mencapai tujuan-tujuan spesifik yang berlandaskan pada saling pengertian”.

 

Analisis definisi Jefkins, yaitu:

(a) bagian pertama dari definisi ini sama seperti yang telah diutarakan oleh IPR. Hanya saja unsur tujuannya lebih diperinci, yaitu tidak hanya terbatas pada saling pengertian saja, melainkan juga berbagai macam tujuan khusus lainnya yang sedikit banyak berkaitan dengan saling pengertian itu. Tujuan-tujuan khusus itu meliputi penanggulangan masalah-masalah komunikasi yang memerlukan suatu perubahan tertentu, misalnya mengubah sikap yang negatif menjadi positif. (b) PR menggunakan metode manajemen berdasarkan tujuan (management by objectives). Dalam mengejar suatu tujuan, semua hasil atau tingkat kemajuan yang telah dicapai harus bisa diukur secara jelas, mengingat PR merupakan kegiatan yang nyata. Kenyataan ini dengan tegas menyangkal anggapan keliru yang mengatakan bahwa PR merupakan kegiatan yang abstrak.

Dapat disimpulkan, bahwa PR dapat membantu organisasi atau perusahaan untuk melayani kebutuhan beragam masyarakat. Praktisi PR dapat bertindak sebagai penasihat manajemen, dan sebagai mediator untuk menerjemahkan tujuan dan kebijakan organisasi atau perusahaan agar dapat diterima masyarakat.

 

 

Sumber : https://bimbel.co.id/