Demokrasi dalam Pemerintahan Masa Revolusi Kemerdekaan

 Demokrasi dalam Pemerintahan Masa Revolusi Kemerdekaan

 Demokrasi dalam Pemerintahan Masa Revolusi Kemerdekaan
Periode  pertama  pemerintahan  negara  Indonesia  adalah  periode
kemerdekaan.  Para  penyelenggara  pada  awal periode  kemerdekaan  mempunyai
komitmen  yang  sangat  besar  dalam  mewujudkan  demokrasi  politk  di  Indonesia.
Tahukah  Anda,  mengapa  demikian?  Ya.,  hal  itu  terjadi  karena  latar  belakang
pendidikan  mereka.  Mereka  percaya  bahwa  demokrasi  bukan  merupakan  suatu
yang hanya terbatas pada komitmen, tetapi lebih dari itu merupakan sesuatu yang
perlu  diwujudkan.  Tentu  saja,  tidak  terlampau  banyak  yang  akan  dibicarakan
menyangkut  demokrasi  pada  pemerintahan  periode  ini  (1945-1949),  kecuali
beberapa  hal  penting  yang  merupakan  peletakan  dasar  bagi  demokrasi  di
Indonesia untuk masa-masa selanjutnya.
1 Amin Suprihatini, S.Pd., dkk. 2005. Kewaganegaraan Kelas X. Cempaka Putih : Jakarta. hlm :
124 – 129
Pertama, hak politik (political franchise) yang menyeluruh.  Para  pembentuk
negara,  sudah  sejak  semula  mempunyai  komitmen  yang  sangat  besar  terhadap
demokrasi.  Sehingga  begitu  menyatakan  kemerdekaann  dari pemerintah kolonial
Belanda,  semua  warga  negara  yang  sudah  dianggap  dewasa  memiliki  hak-hak
politik yang sama, tanpa ada diskriminasi yang bersumber dari ras,  agama, suku,
dan kedaerahan.
Kedua, presiden yang secara konstitusional memiliki peluang untuk menjadi
diktator,  dibatasi  kekuasaannya  ketika  Komite  Nasional  Indonesia  Pusat  (KNIP)
dibentuk untuk menggantikan parlemen.
Ketiga,  dengan  maklumat  wakil  presiden  dimungkinkan  terbentuknya
sejumlah  partai  politik,  yang  kemudian  menjadi  peletak  dasar  bagi  sistem
kepartaian  di  Indonesia  untuk  masa-masa  selanjutnya  dalam  sejarah  kehidupan
politik di tanah air.
Perlu  Anda  ketahui  bahwa  pelaksanaan  demokrasi  pada  masa
pemerintahan  revolusi  kemerdekaann  baru  terbatas  pada  interaksi  politik  di
parlemen dan berfungsinya pers yang mendukung revolusi kemerdekaan. Elemen-
elemen  demokrasi  yang  lain  belum  sepenuhnya  terwujud,  karena  situasi  dan
kondisi yang tidak memungkinkan. Sebab, pemerintah harus memusatkan seluruh
energinya  untuk  bersama-sama  dengan  rakyat  mempertahankan  kemerdekaan
dan menjaga kedaulatan negara, agar negara kesatuan tetap terwujud.
Pada  masa  pemerintahan  revolusi  kemerdekaan,  partai-partai  politik
tumbuh  dan  berkembang  dengan  pesat.  Tetapi,  fungsinya  yang  paling  utama
adalah  ikut  serta  memenangkan  revolusi  kemerdekaan  dengan  menanamkan
kesadaran  untuk  bernegara  serta  menanamkan  semangat  antiimperialisme  dan
kolonialisme.  Karena  keadaan  tidak  mengizinkan,  pemilihan  umum  belum  dapat
dilakukan,  sekalipun  hal  itu  sudah  merupakan  salah  satu  agenda  politik  yang
utama.

B.  Demokrasi Parlementer (1949 – 1959)

Periode kedua  pemerintahan  negara Indonesia  adalah  tahun 1950  sampai
dengan  1959,  dengan  menggunakan Undang-Undang Dasar Sementara (UUDS)
sebagai  landasan  konstitusional.  Mengapa periode  pemerintahan  dalam masa  ini
disebut  sebagai  pemerintahan  parlementer?  Tentu  Anda  ingin  tahu  jawabannya
bukan?  Ya,  karena  pada  masa  ini  merupakan kejayaan  parlemen  dalam  sejarah
politik Indonesia.
Masa  demokrasi  parlementer  merupakan  masa  kejayaan  demokrasi
Indonesia,  karena  hampir  semua  elemen  demokrasi  dapat  ditemukan
perwujudannya dalam kehidupan politik Indonesia.
Pertama,  lembaga  perwakilan  rakyat  atau  parlemen  memainkan  peranan
yang  sangat  penting  dalam  proses  politik  yang  berjalan. Perwujudan  kekuasaan
parlemen  ini  diperlihatkan  dengan  adanya  sejumlah  mosi  tidak  percaya  kepada
pihak pemerintah yang mengakibatkan kabinet harus meletakkan jabatannya.
Kedua,  akuntabilitas  pemegan  jabatan  dan  plitisi  pada  umumnya  sangat
tinggi.  Hal  ini  dapat  terjadi,  karena  berfungsinya  parlemen  dan  juga  sejumlah
media masa sebagai  alat  kontrol  sosial.  Sejumlah  kasus  jatuhnya  kabinet  dalam
periode ini merupakan contoh konkret dari tingginya akuntabilitas tersebut.
Ketiga,  kehidupan  kepartaian  boleh  dikatakan  memperoleh  peluang  yang
sebesar-besarnya  untuk  berkembang  secara  maksimal.  Dalam  periode  ini,
Indonesia  menganut  sistem  banyak  partai  (multyparty  system).  Ada  hampir  40
partai  politik  yang  terbentuk  dengan  tingkat  otonomi  yang  sangat  tinggi  dalam
proses  rekrutmen,  baik  pengurus  atau  pimpinan  partainya  maupun  para
pendukungnya.  Campur  tangan  pemerintah  dalam  hal  rekrutmen  internal  partai
boleh dikatakan tidak ada sama sekali, sehingga setiap partai bebasmemilih ketua
dan segenap anggota pengurusnya.
baca juga :