Disdik-Disbudpar Tunjukkan Prestasi Anak Tunarungu

Disdik-Disbudpar Tunjukkan Prestasi Anak Tunarungu

Disdik-Disbudpar Tunjukkan Prestasi Anak Tunarungu

Disdik-Disbudpar Tunjukkan Prestasi Anak Tunarungu
Disdik-Disbudpar Tunjukkan Prestasi Anak Tunarungu

Setelah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh Unesco, Angklung semakin

dikenal masyarakat. Tak heran, Angklung Day di Kota Bandung sangat meriah. Buktinya, 5.000 anak memainkan angklung secara bersamaan di Gedung Sate, Jalan Diponegoro, saat Angklung Day (21/11).

UPI Bandung bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Propinsi Jawa Barat menggelar festival angklung. Festival dimulai dari depan Gedung Pusdai hingga Gedung Sate.

Dalam kegiatan tersebut, segala jenis angklung dimainkan. Mulai dari angklung badud, angklung sered, angklung gubrag, angklung buhun, buncis, kanekes, dan dodog lojor. Dilengkapi juga dengan kesenian sisingaan lengkap dan singa depok. Adapun peserta mayoritas datang dari kalangan pelajar dari seluruh Jawa Barat.

Para peserta bersama-sama memainkan lagu Halo-Halo Bandung menggunakan angklung

yang dipimpin langsung oleh Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan.

Kepala Seksi pelestarian dan Pembelajaran Balai Pengembangan Bahasa Daerah dan Kesenian Propinsi Jawa Barat Abuy Mustika Wanto mengatakan, dalam kegiatan ini pihaknya mengundang SLB Purnama Cianjur. Yakni, melibatkan siswa tuna rungu untuk tampil dalam festival ini, penunjukan SLB Purnama Cianjur untuk bisa tampil di acara inipun tentunya melalui Disdik Jabar. ’’Hanya SLB Purnama Cianjur yang ditunjuk untuk mewakili kegiatan ini. Dengan demikian diharapkan orang bisa melihat meskipun keterbatasan, tapi anak-anak ini bisa berprestasi dalam bisang seni angklung,” katanya kepada Bandung Ekspres di sela kegiatan.

Sementara itu, Budiman selaku Kepala Sekolah SLB Purnama Cianjur mengungkapkan

, dirinya sangat bangga karena sekolahnya bisa terpilih dalam festival ini. ’’Meskipun anak-anak memiliki kekurangan tapi mereka sangat giat saat berlatih dan tidak pernah mengeluh,” ungkap Budiman.

Sementara itu, Kasi Seni Tradisional Disparbud Jabar Wahyu Roche menegaskan, awalnya Angklung Day ini akan digelar pada 15 November lalu. Namun, karena banyak pertimbangan, akhirnya diundur. ’’Dengan diadakannya kegiatan festival angklung ini, diharapkan generasi muda akan bisa lebih menghargai nilai budaya leluhurnya,” tegas Wahyu

 

Sumber :

https://dcc.ac.id/blog/sejarah-pertempuran-medan-area/