Islam Pada Masa Rasulullah SAW

Islam Pada Masa Rasulullah SAW

1. Kehidupan Awal Nabi Muhammad SAW
Muhammad lahir tanpa banyak perhatian orang. Dalam masyarakat yang dikuasai cukong dan banker besar, mungkin dengan gema gemuruh tentara gajah yang nyaris melenyapkan mereka, lahirlah bayi dari seorang janda miskin, tentu sangat biasa seperti angin gurun. Memang ada sentuhan kebesaran karena ia anggota bangsawan Quraisy. Ayahnya telah tiada dan kakeknya Abdul Muthalib sangat sudah uzur. Boleh sedikit gembira karena yang lahir itu bayi laki-laki, di negeri di mana pria adalah segalanya, tetapi tidak lebih dari itu.  tidak seorang pun berfikir bahwa pada hari itu, Senin 12 Rabiul Awwal 570 M, telah lahir seorang Rasul dalam wilayah Timur Tengah yang kelak mendulang sukses dalam dakwahnya sehingga menggemparkan dunia.
Nabi Muhammad saw. adalah anggota Bani Hasyim, suatu kabilah yang kurang berkuasa dalam suku Quraisy.  Muhammad lahir dalam keadaan yatim, karena ayahnya meninggal dunia tiga bulan setelah ia menikahi Aminah, sesuai dengan adat kebiasaan orang Arab yang menyerahkan pemeliharaan anak kepada orang lain, Muhammad dirawat oleh Halimah Sa’diyah, seorang ibu yang berasal dari bani Sa’id, suatu bani yang terkenal lughat Arab paling murni, indah dan fasih disemenanjung Arabia.  Muhammad dibesarkan dalam asuhan Halimah selama 4 tahun. Setelah itu, selama kurang lebih dua tahun dia berada dalam asuhan ibunya. Ketika berusia 6 tahun ibunya meninggal sehingga Muahammad menjadi yatim piatu selanjutnya Muhammad diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib, 2 tahun kemudian sang kakek meninggal dunia. Sang paman sangat sayang kepada keponakannya ini, hingga kemana pun pergi Muhammad selalu diajaknya.
Pada usia 12 tahun, Muhammad ikut berdagang bersama pamannya ke syiria. Dalam perjalanan mereka bertemu pendeta Kristen bernama Buhairah yang melihat tanda-tanda kenabian pada Muhammad. Pada usia 25 tahun, Muhammad berangkat ke Syiria membawa barang dagangan saudagar wanita kaya raya. Khadujah terpesona dengan sifat-sifat Muhammad yang terpuji, kemudian melamarnya dan mereka menikah.
2. Masa Kerasulan

a. Periode Mekah

Setelah menikah dengan khadijah, Muhammadsering berkontemplasi kegua Hira’ berhari-hari untuk bertafakur, ketika usianya menjelang 40 tahun. Pada suatu malam, tanggal 17 Ramadhan 611 M, malaikat Jibril muncul dihadapannya mennyampaikan wahyu Allah yang perma (surat Al-Alaq:1-5). Setelah mendapat wahyu Muhammad pulang dengan gemetar meminta isterinya menyelimutinya. Dalam beberapa lama Jibril tidak muncul lagi. Sementara nabi Muhammad selalu datang ke gua Hira’ untuk menantikannya. Dalam keadaan inilah turun wahyu yang membawa perintah kepadanya (surat Al-Mudatsir:1-7). Dengan turunnya perintah itu, mulailah Rasulullah berda’wah. Mula-mula beliau melakukannya secara diam-diam dilingkungan keluarga sendiri dan rekan-rekannya. Setelah beberapa lama dakwah dilakukan secara individual, turunlah perintah dakwah secara terbuka. Pada mulanya menyeru kerabatnya dari Bani Abdul Muthalib lalu masyarakat Arab umum.
Melihat dakwah nabi yang terang-terangan, pemimpin-pemimpin Quraisy berusaha mengalangi seperti yang dikutip oleh badri yatim,   sehingga banyak aksi-aksi kekerasan dari kaum Quraissy terhadap nabi dan pengikutnya. Pada tahun ke-5 kenabiannya, beliau mengajak hijrah keluar mekah, yaitu kota Habsyah (Ethiopia). Di sini mereka diterima dengan baik oleh Negus, sang raja yang adil. Sepulang dari pengungsian selama tiga bulan Rasulullah dan pengikutnya menemui tindakan yang lebih kejam, yaitu pemboikotan kepada Bani Hasyim secara keseluruhan.
Pada tahun ke-10 Kerosulannya, pemboikotan berakhir, tetapi Rosulullah mengalami cobaan ditinggalkan isteri tercinta khdijah, dan sang paman karena ipanggil Allah, melihat kaum kafir Quraisy sangat senang, sebatb 2 orang yang mereka segani telah tiada mereka semena-mena terhadap nabi Muhammad saw. Tahun ini inipula terjadi peridtwa Isra’ dan Mi’raj.
sumber :