Jenis-jenis Motivasi

Jenis-jenis Motivasi

Jenis-jenis Motivasi

Tugas guru adalah membangkitkan motivasi  anak sehingga ia mau belajar. Motivasi dapat timbul dari dalam diri individu dan dapat pula timbul akibat pengaruh dari luar dirinya. Hal ini akan diuraikan sebagai berikut.

  1. Motivasi intrinsik

Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dari orang lain, tetapi atas kemauan sendiri. Misalnya anak mau belajar karena ingin memperoleh ilmu pengetahuan dan ingin menjadi orang berguna bagi nusa, bangsa, dan negara. Oleh karena itu, ia rajin belajar tanpa ada suruhan dari orang lain.

  1. Motivasi ekstrinsik

Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan kondisi yang demikian akhirnya ia mau melakukan sesuatu atau belajar. Misalnya seseorang mau belajar karena ia disuruh oleh orang tuanya agar mendapat peringkat pertama dikelasnya.

Usaha membangkitkan motivasi belajar siswa, guru hendaknya berusaha dengan berbagai cara. Berikut ini ada beberapa cara membangkitkan motivasi ekstrinsik dalam menumbuhkan motivasi intrinsik.

Ø  Kompetisi (persaingan): guru berusaha menciptakan persaingan diantara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya dan mengatasi prestasi orang lain.

Ø  Pace making (membuat tujuan sementar atau dekat): pada awal kegiatan belajar mengajar guru, hendaknya terlebih dahulu menyampaikan kepada siswa TIK yang akan dicapainya sehingga dengan demikian siswa berusaha untuk mencapai TIK tersebut.

Ø  Tujuan yang jelas: motif mendorong individu untuk mencapai tujuan. Makin jelas tujuan, makin besar nilai tujuan bagi individu yang bersangkutan dan makin besar pula motivasi dalam melakukan suatu perbuatan.

Ø  Kesempurnaan untuk sukses: kesuksesan dapat menimbulkan rasa puas, kesenangan dan kepercayaan terhadap diri sendiri, sedangkan kegagalan akan membawa efek yang sebaliknya. Dengan demikian, guru hendaknya dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk meraih sukses dengan usaha sendiri, tentu saja dengan bimbingan guru.

Ø  Minat yang besar: motif akan timbul jika individu memiliki minat yang besar.

Ø  Mengadakan penilaian atau tes: pada umumnya semua siswa mau belajar dengan tujuan memperoleh nilai yang baik. Hal ini terbukti dalam kenyataan bahwa banyak siswa yang tidak belajar bila tidak ada ulangan. Akan tetapi, bila guru mengatakan bahwa lusa akan diadakan ulangan lisan, barulah siswa giat belajar dengan menghafal agar ia mendapat nilai yang baik. Jika, angka atau nilai itu merupakan motivasi yang kuat bagi siswa.[3]

Sebagai seorang motivator, seorang guru harus mampu membangkitkan semangat dan mengubur kelemahan anak didik bagaimanapun latar belakang hidup keluarganya, bagaimanapun kelam masa lalunya, dan bagaimanapun berat tantangannya. Tidak ada kata menyerah sampai titik darah penghabisan. Allah selalu menyayangi hama-Nya dan berjanji memberikan jalan kesuksesan. Allah tidak akan mengubah nasib seseorang sebelum orang itu berusaha keras mengubah takdirnya sendiri.

Kisah orang sukses bisa menjadi inspirasi murid dalam mengukir cita-cita hidupnya. Guru harus jeli memberikan kisah hidup orang sukses kepada murid-muridnya, sehingga mereka bangkit dari keterpurukan, keputusasaan.

Sebagai seorang motivator, guru adalah psikolog yang diharapkan mampu menyelami psikologi anak didiknya, sehingga mengetahui kondisi lahir batinnya. Dan, dari pengetahuan ini, seorang guru akan mencari motivasi model apa yang cocok bagi anak didiknya.

Ketika anak didikna mengantuk di dalam kelas, tidak semangat, dan keletihan menerima pelajaran dari pagi sampai siang, guru yang cerdas akan mampu membaca situasi ini. Ia akan menyegarkan dulu pikiran anak didik dengan cerita dan motivasi hidup orang-orang sukses, setelah itu baru melanjutkan pelajaran dengan tenang dan energik.

Seperti yang dikatakan oleh Oemar Hamalik (2008), memotivasi belajar penting artinya dalam proses belajar siswa, karena berfungsi mendorong, menggerakan, dan mengarahkan kegiatan belajar. Oleh sebab itu, prinsip-prinsip motivasi belajar sangaat erat kaitannya dengan prinsip-prinsip belajar itu sendiri.

Di bawah ini, akan diuraikan beberapa prinsip dan motivasi belajar supaya mendapat perhatian dari pihak perencanaan pengajaran, khususnya dalam rangka merencanakan kegiatan belajar.

  1. a)Kebermaknaan

Siswa akan suka dan termotivasi belajar apabila hal-hal yang dipelajari mengandung makna tertentu baginya. Sebenarnya, kebermaknaan bersifat personal, karena dirasakan sebagai sesuatu yang penting bagi diri seseorang. Ada kemungkinan pelajaran yang disajikan oleh guru tidak dirasakan sebagai suatu yang bermakna. Agar suatu pelajaran bisa bermakna, seorang  guru bisa mengaitkan pelajrannya dengan ,asa lampau siswa, tujuan-tujuan masa mendatang, minat serta nilai-nilai yang berarti bagi mereka.

  1. b)Modelling

Siswa akansuka memperoleh tingkah laku baru disaksikan dan ditirunya. Pelajaran akan lebih mudah dihayati dan diterapkan oleh siswa jika guru mengajarakannya dalam entuk tingkah laku model, bukan hanya dengan menceritakannya dalam lisan. Dengan model tingkah laku itu, siswa dapat mengamati dan menirukan apa yang diinginkan oleh guru. Beberapa eyunjuk yang perlu diperhatikan adlah sebagai berikut.

  • Menetapkan aspek-aspek penting dari tingkah laku yang akan dipertunjukan sebagai model. Jelaskan setiap tahap dan keputusan yang akan ditempuh agar mudah diterima oleh siswa.
  • Sisa dapat menirukan model yang telah ditunjukan, hendaknya diberikan penghargaan.
  • Model harus diamati sebagai suatu pribadi yang lebih tinggi dari pada siswa sendiri.
  • Jangan sampai tingkah laku model berbenturan dengan nilai-nilai atau keyakinan siswa sendiri.
  • Modelling disajikan dalam teknik mengajar atau dalam keterampilan-keterampilan sosial.[4]  
  1. Fungsi motivasi dalam belajar.

Dalam kegiatan belajar mengajar pasti akan ditemukan anak didik yang mals berpartisipasi dalam belajar. Sementara anak didik yang lain aktif berpartisipasi dalam kegiatan, seorang atau dua orang anak didik duduk dengan santainya di kursi mereka dengan alam pemikiran yang jauh entah kemana. Sedikitpun tidak tergerak hatinya untuk mengikuti pelajaran dengan cara mendengarkan penjelasan guru  dan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan.

Ketidak minat terhadap suatu mata pelajaran menjadi pangkal penyebab kenapa anak didik enggan mencatat apa yang disampaikan oleh guru. Itulah sebagai pertanda ahwa anak didik tidak mempunyai motivasi untuk belajar. Kemiskinan motivasi instrinsik ini merupakan masalah yang memerlukan banatuan yang tidak bisa ditunda-tunda. Guru harus memeberikan suntikan dalam bentuk motivasi ekstrinsik. Sehingga, dalam bantuan itu, anak didik dapat keluar dari kesulitan belajar.

Bila motivasi ekstrinsik yang diberikan itu dapat membantu anak didik keluar dari lingkungan masalah kesulitan belajar, maka motivasi dapat diperankan dengan baik oleh guru. Eranan yang dimainkan oleh guru dengan mengandalkan fungsi-fungsi motivasi merupakan langkah akurat untuk menciptakan iklim belajar yang kondusif bagi anak didik.

Baik motivasi instrinsik maupun motivasi ekstrinsik sama berfungsi sebagai pendorong, penggerak, dan penyeleksi buatan ketiganya menyatu dalam sikap dan ada implikasi nyata dalam perbuatan. Dorongan adalah penomena psikologis dari dalam yang melahirkan hasrat untuk bergerak dalam menyeleksi perbuatan yang akan dilakukan.

Karena itulah, baik dorongan atau penggerak mauoun penyeleksi marupakan kata kunci dari motivasi dalam setiap perbuatan dalam belajar.

Menurut Imam Musbikin ada tiga fungsi motivasi, yaitu :

  • Motivasi sebagai pendorong buatan, pada mulanya anak didik tidak ada hasrat untuk belajar. Tetapi, karena ada sesuatu yang dicari munculah minatnya untuk belajar. Sesuatu yang belum diketahui itu akhirnya mendorong anak didik untuk belajar dalam rangka mencari tahu. Jadi, motivasi berfungsi sebagai pendorong ini mempengaruhi sifat yang harusnya anak didik ambil dalam rangka belajar.
  • Motivasi sebagai penggerak buatan. Dorongan psikologis yang melahirkan sikap terhadap anak didik itu merupakan suatu kekuatan yang tak terbendung, yang kemudian terjelam dalam bentuk gerakan psikofisik. Dalam hal ini anak didik sudah melakukan aktivitas belajar dengan segenap raga dan jiwa. Sikap berada dalam kepastian perbuatan, sedangkan akal-pikiran mencoba membedah nilai yang terpatri dalam wacana, prinsip, dalil, dan hukum, sehingga betul isi yang dikandung.
  • Motivasi sebagai pengarah perbuatan. Anak didik yang mempunyai motivasi dapat menyeleksi mana perbuatan yang harus dilakukan dan mana perbuatan yang mesti diabaikan. Seseorang anak didik yang ingin mendapatkan sesuatu dari sesuatu mata pelajaran tertentu, tidak mungkn dipaksakan untuk mempelajari mata pelajaran dimana tersimpan sesuatau yang dicari itu. Sesuatu yang ingin dicari anak didik merupakan tujuan belajar yang akan dicapainya. Tujuan belajar tersebut merupakan pengarah yang memberikan motivasi kepada anak didik dalam belajar.

baca juga :