Kehujjahannya Sunnah sebagai Sumber Hukum Islam

Kehujjahannya Sunnah sebagai Sumber Hukum Islam

Kehujjahannya Sunnah sebagai Sumber Hukum Islam

Kehujjahannya

Telah sepakat bahwa sesuatu yang datangnya dari Nabi Muhammad SAW, baik berupa ucapan, perbuatan maupun ketetapannya akan membentuk hukum syar’at Islam atau tuntutan dan disampaikan kepada kita dengan sanad yang shahih yang mendatangkan kepastian yang ditujukan sebagai hujjah atas umat Islam. Bukti-bukti atas kehujjahan sunnah adalah sebagai berikut:

a) Di dalam nash-nash al Qur’an

Allah telah berfirman dalam ayat-ayat-Nya bahwa jika terjadi suatu pertentangan dalam suatu urusan, maka dianjurkan untuk mengembalikannya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Seperti firman Allah SWT dalam QS. an-Nisa’:59, yang berbunyi:
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
Hal tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa pembentukan syri’at Islam oleh Nabi Muhammad adalah pembentukan hukum yang harus diikuti.

b) Ijma’ para sahabat

Di kalangan para sahabat telah disepakati untuk wajib ittiba’ terhadap hadis Nabi, baik pada masa Nabi Muhammad SAW masih hidup maupun telah wafat, di kalangan para sahabat tidak ada yang mengingkarinya.

Nisbahnya kepada Al-Qur’an

Sunnah adalah sumber hukum kedua bagi hukum Islam yang menerangkan segalayang dikehendaki al-Qur’an sebagai penjelas, penyarah, penafsir, penguat, dan yang mempertanggungkannya terhadap yang tidak zhahir. Seorang mujtahid akan kembali kepada sunnah ketika membahas tentang suatu masalah, ketika ia tidak menemukan penjelasan hukum yang hendak ia ketahui di dalam al-Qur’an. Terdapat berbagai pendapat mengenai hubungan atau fungsi yang terkandung dalam sunnah terhadap al-Qur’an, secara umum pendapat-pendapat tersebut sebagai berikut:
· Bayan taqrir, keterangan yang diberikan sunnah untuk memperkokoh atau memperjelas apa yang telah dijelaskan dalam al-Qur’an, sehingga hukum tersebut memiliki dua sumber hukum dan terdapat dua dalil. Dengan contoh sebagai berikut:
Dalam ayat al-Qur’an QS. al-Baqarah:185

“(beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”
Diperkuat atau diperjelas dengan hadis Nabi Muhammad:
صوموا لرؤيته وافتروالرؤيته {متفق عليه }

“ Berpuasalah kamu setelah melihat bulan dan berbukalah kamu setelah melihat bulan”.(Muttafaqun ‘alaih)
· Bayan tafsir, adakalanya sunnah memerinci, menafsirkan hal-hal yang ada dalam al-Qur’an yang bersifat global atau mrembatasi hal-hal yang terdapat dalam al-Qur’an yang bersifat mutlak atau mentakshis hal-hal yang bersifat umum. Oleh karena itu Allah memberikan keluasan kepada Nabi Muhammad SAW dalam menafsirkan makna ayat-ayat yang dimaksud dalam Al-Qur’an, seperti contohnya hadis yang menerangkan tentang kemujmalan ayat al-Qur’an tentang shalat:

صلوا كمار أيتموني اصلى {رواه احمد و البخارى}
“Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat.” (HR. Imam Ahmad dan Imam Bukhari)
· Bayan Tasyri’, adakalanya ada hukum yang tidak terdapat dalam al-Qur’an, sehingga hukum yang muncul ditetapkan oleh sunnah dan al-Qur’an mendiamkannya atau tidak menunjukkan atas hal tersebut. Contohnya tentang keharaman menghimpun wanita dengan bibinya dalam satu pernikahan dan keharaman seorang laki-laki memakai pakaian sutra dan emas serta.

Sumber: https://www.wfdesigngroup.com/