ketika Qabus mengambil kontrol atas pemerintahan ia kemudian membuka isolasi Oman dari dunia luar

KONDISI OMAN DI ERA MODERN

Pada tahun 796, Oman dikuasai oleh pemerintahan Imam Ibadiyah yang berusaha mempertahankan sistem kesukuan, pertanian dan mengintegrasikan warga nomadik dan warga pemukiman. Ibadiyah berusaha memperluas jaringan perdagangan Oman dengan cara mendirikan koloni dagang di Basrah, Siraf, Aden, India dan wilayah pesisir Afrika Timur.
Portugis memasuki Oman pada abad ke-16 setelah Vasco da Gama berhasil memasuki India. Kemudian Portugis memerintahkan Alfonso de Albuquerque untuk mendirikan sebuah imperium di Timur. Alfonso berpendapat bahwa untuk bisa mendirikan sebuah imperium terlebih dahulu harus menguasai lautan yang menghubungkan antara Timur dan Barat, yaitu Oman sebab posisinya yang berada di mulut Teluk Persia. Pendudukan Portugis atas Oman terjadi pada tahun 1507 dan berakhir pada tahun 1650.
Namun pada abad ke-19, Mesir mengambil alih lalu lintas Samudera Hindia melalui rute perdagangan Laut Merah. Akibatnya perdagangan bangsa Oman dibawah dominasi Ibadiyah hancur. Kemudian Oman berusaha bangkit dengan cara mengintegrasikan masyarakatnya menjadi masyarakat tunggal disertai pengakuan Ibadiyah sebagai mazhab resmi negara yang akan mengatur hukum perdata dan pidana di Oman.

Oman merupakan satu-satunya negara yang paling koservatif di kawasan Teluk Persia.

Kebangkitan kembali Oman terjadi pada abad ke-17 dan ke-18 ketika Oman berhasil mengusir Portugis keluar dari kawasan Afrika timur. Selain itu pada abad ke-19, para sultan dari dinasti Bu Sa’id pun berhasil memperkuat kembali jaringan perdagangan mereka. Oman memperbaiki kembali kontrol atas Zanzibar dan beberapa kota lainnya di Afrika Timur.
Pada tahun 1749 Ahmad ibn Sa’id terpilih menjadi khalifah Oman dan mendirikan dinasti al-Bu Sa’id yang memerintah Oman hingga sekarang. Disamping itu dominasi Portugis yang telah hilang kemudian digantikan oleh Inggris. Langkah Inggris dalam usaha untuk menguasai Oman terhalang oleh adanya niat yang sama dari Perancis. Sehingga hampir satu abad lamanya Inggris berusaha membuat perjanjian dagang dengan Oman namun baru berhasil pada tanggal 31 Mei 1839. Oman berada sepenuhnya dalam penguasaan protektorat Inggris pada tahun 1854, ketika sultan Oman, Sa’id ibn Sulthan (1791-1856), menghadiahkan pulau Kuria Muria kepada Inggris.
Pada tahun 1955, Sa’id ibn Taymur (1932-1970) dengan bantuan Inggris, merampas seluruh wilayah negeri dibawah pemerintahannya. Pola pemerintahan yang sempit dan tiranis memancing sejumlah gerakan oposisi. Salah satunya ialah Front Pembebasan Masyarakat Oman dibentuk tahun 1965 oleh para pelajar dan The Dhofar Liberation Front mengorganisir perlawanan terhadap pemilikan tanah pribadi para sultan. Sa’id ibn Taymur mampu mempertahankan keutuhan kekuasaan atas negeri ini lantaran jasa para perwira militernya dari Inggris dan lantaran kebijakan isolasi Oman dari dunia luar.
Tahun 1970-an, putranya yang bernama Qabus ibn Sa’id naik tahta untuk membentuk sebuah rezim yang lebih modern. Ia menumpas semua kekuatan perlawan yang dilakukan oleh oposisi. Selain itu, ketika Qabus mengambil kontrol atas pemerintahan ia kemudian membuka isolasi Oman dari dunia luar. Ia melakukan pembangunan dan pembaruan di segala sektor seperti jalanan, sekolah-sekolah, kesehatan, komunikasi, layanan keuangan, sumber air, dan perumahan. Ia berkeyakinan bahwa kebijakan baru tersebut dapat mentransformasikan Oman kearah kemajuan.
Citra Oman segera berubah sejak ditemukannya ladang minyak dan adanya ambisi yang kuat dari sultan Qabus untuk mengakhiri isolasi tersebut. Oman menjadi salah satu negara maju dengan perkembangan yang pesat dalam berbagai bidang. Kesejahteraan sosial di negara yang beribukota di Muskat itu mengandalkan pengusaha dan jaringan kerabat. Jika ada masyarakat yang berusia lanjut, memiliki keterbatasan fisik serta mengalami keterbatasan ekonomi maka akan dirawat oleh jaringan kerabat.


Sumber: https://bengkelharga.com/