masyarakat Indonesia secara umum mengenal musik keroncong

tempat-tempat pusat Keroncong di Indonesia antara lain,

1. Kampung Tugu

2. Kampung Kemayoran

pada kedatangan Jepang, keroncong dilarang karena dianggap mempunyai unsur kebarat-baratan. dan lagu-lagu yang ada diarahkan yang lebih ketimuran dengan tema kepahlawanan dan cinta tanah air. Pada jaman Jepang ini pula lahir banyak lagu-lagu keroncong yang bertemakan cinta tanah air atau kepahlawanan seperti ”Suci”, ”Hanya Engkau” dan ”Jembatan Merah”. Dan pada saat itu pula lagu ”Bengawan Solo” mulai dikenal dan bahkan sampai ke negeri Jepang. Tema ”Kepahlawanan” dan ”Cinta Tanah Air” tetap bertahan bahkan setelah Jepang meninggalkan Indonesia. Lagu ”Selendang Sutera”, ”Sepasang Mata Bola” dan ”Melati di Tapal Batas” adalah contoh lagu yang lahir setelah tahun 1945.

Sementara adanya pendapat yang berbeda mengenai keberadaan musik keroncong di Indonesia, apakah merupakan musik asli Indonesia atau bukan, sebaiknya tidak perlu diperdebatkan. Sangat sulit untuk mengatakan jenis musik tersebut asli ciptaan orang Indonesia sebab menurut catatan atau sumber yang ada, musik tersebut adalah kesenian yang lahir dari orang-orang yang mempunyai hubungan erat dengan orang-orang Portugis. Namun, musik keroncong yang berkembang di Indonesia pun bukanlah jenis musik keroncong asli Portugis. Yang bisa dikatakan adalah telah terjadi akulturasi atau percampuran antara musik keroncong yang berasal dari Portugis dengan musik-musik atau budaya yang ada di Indonesia. Demikian pula dengan jenis jenis musik lainnya yang banyak mendapat pengaruh luar seperti pop, jazz atau blues.

Agaknya, sekarang masyarakat Indonesia secara umum mengenal musik keroncong sebagai sebuah kesenian musik khas Indonesia yang memiliki irama yang dinamis, melodius dan teknik bernyanyinya dengan cengkok khusus, dibawakan oleh pemain musik dan penyanyi yang sopan dan tidak banyak gerak dan gaya, sehingga terkesan kaku. Banyak orang mengganggap keroncong adalah musik untuk kalangan orang tua. Pada hal bila ditelusuri ke belakang, sebenarnya musik jenis ini justru dinyanyikan oleh kalangan muda untuk merayu para nona-noni.

-catatan kuliah, makalah dipresentasikan pada Seminar Sejarah dengan tema Sejarah Seni Pertunjukan dan Pembangunan Bangsa yang diselenggarakan oleh Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta pada tanggal 17-18 Mei 2006 dan sumber lainnya- 20 November 2012

SUmber: https://digitalcamera.co.id/