Pancasila Bersifat Universal

Pancasila Bersifat Universal

Tata nilai universal yang dibawa arus globalisasi saat ini sebenarnya tak lebih nilai-nilai Pancasila dalam artian yang luas. Cakupan dan muatan globalisasi telah ada dalam Pancasila. Karena itu, mempertentangkan ideologi Pancasila dengan ideologi atau faham lain tak lebih dari sekadar kesia-siaan belaka. Selain itu, selama masih terjadi pergulatan pada faham dan pandangan hidup, bangsa dan rakyat Indonesia akan terus berada dalam kekacauan berpikir dan sikap hidup. Menggantikan Pancasila sebagai dasar negara tidak mungkin karena faham lain tidak akan mendapat dukungan bangsa dan rakyat Indonesia.

Pancasila dapat ditetapkan sebagai dasar negara karena sistem nilainya mengakomodasi semua pandangan hidup dunia internasional tanpa mengorbankan kepribadian Indonesia. Sesungguhnya, Pancasila bukan hanya sekadar fondasi nasional negara Indonesia, tetapi berlaku universal bagi semua komunitas dunia internasional. Kelima sila dalam Pancasila telah memberikan arah bagi setiap perjalanan bangsa-bangsa di dunia dengan nilai-nilai yang berlaku universal. Tanpa membedakan ras, warna kulit, atau agama, setiap negara selaku warga dunia dapat menjalankan Pancasila dengan teramat mudah. Jika demikian, maka cita-cita dunia mencapai keadaan aman, damai, dan sejahtera, bukan lagi sebagai sebuah keniscayaan, tetapi sebuah kenyataan. Mengapa? Karena cita-cita Pancasila sangat sesuai dengan dambaan dan cita-cita masyarakat dunia. Bukankah kondisi dunia yang serba carut-marut seperti sekarang ini diakibatkan oleh faham-faham di luar Pancasila? Bukankah secara de facto faham komunisme telah gagal dalam memberikan kedamaian dan kesejahteraan bagi rakyat Uni Soviet? Bukankah faham liberalisme banyak mendapat tentangan dari negara-negara berkembang? Sebetulnya Indonesia bisa melepaskan diri dari perangkap hegemonik negara-negara maju. Cina, Korea Selatan, Brazil, India, dan masih banyak negara lain yang notabene sebelumnya termasuk negara berkembang, berhasil menunjukkan jalan keluar untuk lepas dari perangkap neoliberalisme. Upaya melepaskan diri dari jerat neoliberalisme tersebut mampu mereka lakukan dengan mengandalkan kekuatan lokal yang terus dibangun dan digunakan sebagai senjata dalam menghadapi pasar bebas. Dominasi negara-negara berkembang dapat mencapai titik lelahnya jika, kekuatan-kekuatan lokal negara berkembang mampu ditingkatkan.

Dalam hal ini tentu saja peran negara menjadi sangat strategis dalam mengembangkan kekuatan lokal tersebut. Negeri ini jelas membutuhkan sistem penyeimbang untuk masuk dalam pasar bebas, baik struktural maupun kultural. Indonesia perlu menata kekuatan struktural guna melakukan proses penguatan potensi lokal. Negara-negara maju dengan segala kekurangannya telah terlebih dulu melakukan penguatan struktural. Mereka memang memiliki sumberdaya alam yang sangat terbatas, namun keterbatasan itu disiasati dengan manajerial yang sangat kuat dan ketat. Negara maju memiliki kemampuan lebih dalam merasionalkan sumber-sumber lokalnya dan membuat mekanisme hukum yang cukup rinci dengan batas-batas yang jelas sebagai langkah proteksi terhadap aset nasional mereka—hal mana yang belum mampu dilakukan di Indonesia.

Indonesia sendiri yang memiliki aset-aset strategis, malah bertindak jauh lebih liberal dari apa yang dilakukan negara-negara maju pencetus liberalisme itu sendiri. Indonesia tidak membangun mekanisme kontrol yang cukup efektif guna memproteksi aset nasional agar jangan sampai jatuh ke tangan asing. Kemampuan manajerial Indonesia dalam menata aset-asetnya inilah yang seharusnya menjadi kunci penentu sebesar apa peluang kita dalam kancah globalisasi. Penguatan struktural yang perlu dilakukan adalah pengarusutamaan ekonomi rakyat dan industri lokal dalam kebijakan dan regulasi pemerintah. Selain penguatan struktural, pembenahan mental (kultural) bangsa inipun perlu dipikirkan. Harus jujur dan lapang dada kita akui bahwa saat ini bangsa Indonesia memiliki kebiasaan kultural “mentalitas orang kalah”. Kerap kali kita terlalu terbuka menerima pengaruh dari luar. Ironisnya, pengaruh luar yang masuk ditelan begitu saja. Harusnya ada transformasi kebudayaan yang cukup besar untuk bisa membendung pengaruh tersebut.

sumber :

https://nashatakram.net/layanan-otomotif-seva-id/