Pandangan Agama

Pandangan Agama

Manusia denga lingkungannya merupakan satu kesatuan “suatu sistem”, manusia dengan lingkunganya saling berintraksi, manusia dengan sistem sosialnya (social system) pada satu sisi dapat mempengaruh oleh ekosistem (ecosystem) dan pada sisi lain lingkungan dan ekosistemnya juga dapat mempengaruhi dan di pengaruhi oleh sistem sosial dari manusia tersebut (A.Terry Rambo,1983)
Agama memandang, sejak permulaan perciptaan lingkungan (bumi) oleh pencipta-Nya telah dinyatakan dan di peringatkan bahwa “Allah menjadikan bumi dan langit dan segala isinya adalah untuk keselamatan ummat manusia, walaupun umat sedikit di antara mereka yang bersyukur”(QS, Al-Mukmin:64 Al-Baqarah:29 ;Al- A’raf:10;dan Al- Hijr:19-20). Agama mengajarkan bahwa lingkungan harus dikelolah sesuai dengan kebutuhan manusia, karena alam di ciptakan Allah untuk kemaslahatan ummat manusia,tetapi hanya sampai batas tertentu.

B. Upaya Mengatasi Krisis Kependudukan dan Lingkungan Hidup

Sogiran (1983), menjelaskan bahwa manusia berinteraksi dengan lingkungannya, manusia mempengaruhi lingkungan hidupnya dan juga di pengaruhi oleh lingkungannya. Dalam usaha menjaga kelangsungan hidupnya, manusia berusaha menyatakan sumber-sumber alam yang ada dengan pengolaan yang baik.
James G, Lovelok (1984) menyarankan bagaimana cara pengolaan air kawat. Salah satu cara yang bijaksana pada saat ini adalah dengan membuat waduk-waduk pada daerah aliran sungai (DAS), sehingga energi potensial yang terkandung dalam air tidak langsung terbuang ke laut, tanah-tanah yang tandus dapat di hijaukan kembali atau di buat lahan pertanian, pertanahan, perikanan, kehutanan dan kombinasi dari kegiatan usaha tersebut, yang telah di kenal sebagai agroforesti.
Soeryaatmadjan (1987) menyatakan, bahwa perlu pengembangan IPTEK untuk menyatakan kembali hasil buangan, agar sampah-sampah berasal dari perkotaan dapat di manfaatkan kembali, misalnya untuk rabuk (kompas), tenaga listrik dan sebagainya. Kotoran ternak selain untuk pupuk dapat di gunakan untuk biogas. Model pengembangan ogroforesti di Cina sejak tahun 1049, ternyata memberikan hasil yang mengembirakan termasuk Jerman dalam pengolaan hutan masa depan.

Sumber :

https://urbanescapesusa.com/