Pandangan Masyarakat

Pandangan Masyarakat

Sejak dicetuskan 30 tahun lalu, hari bumi dijadikan simbol kebangkitan masyarakat sipil melawan pihak penguasa yang kurang arif dalam memperlakukan lingkungan hidup sehingga ditetapkanlah tanggal 22 April 1970 sebagai hari bumi. Timbullah pertanyaan, seandainya tidak ada Hari Bumi tersebut apakah umat manusia atau penduduk bumi tidak akan berusaha melestarikan lingkungan hidup? Jawabannya! Tentu tidak. Penetapan tanggal 22 April 1970 itu merupakan refleksi keprihatinan seorang senator Amerika Serikat, Gaylord Nelson, terhadap semakin menurunnya kualitas lingkungan hidup (Kompas, 2000 : 7), Nelson menyebut kebangkitan masyarakat sipil itu sebagai “Ledakan akar rumput yang sangat mencengangkan”. Menurut analisis ledakan itu muncul karena bergabungnya generasi pemrotes tahun 1960-an yang sebagian besar pelajar, mahasiswa, dan sarjana yang dikenal sebagai motor gerakan anti perang dan pembela hak sipil yang radikal.
1. Pandangan Masyarakat Timur
Umat manusia harus menyadari bahwa bumi tempat berpijak memiliki keterbatasan daya tamping baik dari segi daya yang dimilikinya maupun dari segi materi yang dikandungnya.
Memperhatikan jumlah penduduk yang terus meningkat hingga memasuki abad ke-21, masyarakat jangan terpaku pada jumlah peduduk yang semakin bertambah, tetapi perhatian itu terutama lebih di fokuskan pada kebutuhan yang diperlukan manusia yang berlipat ganda. Menurut Otto Soemarwato (kompas,200:4) manusia terlalu arogan dalam memanfaatkan daya yang dimiliki bumi. Padahal manusia pendatang baru di bumi, nenek moyang manusia tertua muncul baru sekitar 3 juta tahun yang lalu. Manusia dikatakan modern adalah hasil proses evolusi, seperti halnya mahluk hidup lainnya, manusia berinteraksi denga lingkungan hidupnya. Oleh karena itu, maka setiap perubahan yang terjadi pada lingkungan hidup sangat berpengaruh pada kehidupan manusia, padahal manusia ingin hidup sejahtera.
Pada hakekatnya, untuk membina kesejahteraan hidup manusia memerlukan 4 macam kebutuhan hidup yaitu: pangan, sandang, papan dan pendidikan. Untuk mencapai semua itu manusia memanfaatkan ataupun mengeksploitasi alam sekitar, dalam hal inilah, sebagian besar penduduk bumi masih mempunyai kecenderungan berprilaku yang membawa akibat penurunan kualitas atau kerusakan alam sekitar. Karena tanpa menyadari manusialah yang membutuhkan lingkungan bukan lingkungan yang membutuhkan manusia, tanpa lingkungan manusia tidak akan bisa mempertahankan dan melestarikan / melangsukan kehidupannya (Otto Soemarwoto,1985)

2. Pandanagan Masyarakat Barat

Sikap dan perilaku kelompok masyarakat modern (barat) berfalsafah hidup bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi harus di kembangkan secara maksimal dan berupaya menghasilkan penemuan-penemuan batu untuk mengubah dan menguasai kebutuhan manusia.
Konsep yang datang dari barat adalah adanya pandangan “manusia lawan alam” atau “manusia penakluk alam” (1989). Konsep ini mendasari pelaksanaan hubungan antara manusia dengan alam lingkungannya selama berabad-abad. Konsep ini seakan-akan menjadi dasar falsafah sekuler sejarah. Dalam falsafah ini jalan peradaban manusia dapat dilihat sebagai gerakan suatu evolusi dan waktu manusia harus tunduk pada dan atur oleh alam sampai ketitik terjadi kebalikannya dan manusia men

 

Sumber :

https://fgth.uk/