Pandangan Supervisi Direktif

Pandangan Supervisi Direktif

Pandangan Supervisi Direktif

Supervisi pengajaran adalah serangkaian usaha bantuan yang dilakukan untuk meningkatkan profesional guru yang dilakukan oleh supervisor baik kepala maupun pengawasan pendidikan atau supervisor lainnya. Menurut Glickman (2003), menyatakan bahwa serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengembangkan proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan pembelajaran. Sesuai dengan Mulyasa (2013:249), supervisi akademik adalah bantuan profesional kepada guru, melalui siklus perencanaan yang sistematis, pengamatan yang cermat, dan umpan balik yang objektif dan segera. Dengan demikian, supervisi pengajaran bukan menilai performasi guru dalam proses pembelajaran melainkan memberikan bantuan kepada guru dalam meningkatkan kemampuannya. Supervisor dalam melaksanakan tugasnya pasti menghadapi guru yang memiliki kemampuan, motivasi, dan karakteristik yang berbeda-beda. Dengan hal ini, supervisor dalam menyelesaikan masalah menggunakan pandangan supervisi, salah satunya yaitu pandangan supervisi direktif.
Pandangan direktif (langsung) merupakan pendekatan terhadap masalah secara langsung. Di sini supervisor memberikan arahan secara langsung. Dalam hal ini supervisor berperan secara dominan dalam mensupervisi. Dengan menggunakan pandangan direktif ini, supervisor dapat memberikan penguatan dan pemberian hukuman. Menurut Imron (2012:74) menyatakan bahwa, pandangan supervisi direktif pembelajaran berlandaskan pada psikologi behavioristik, dimana kegiatan belajar dilakukan dengan kontrol instrumental lingkungan. Berdasarkan pandangan ini, seseorang akan berhasil dalam belajarnya, jika dikondisikan dengan baik dalam lingkungan tertentu. Peserta didik yang berhasil dalam belajar dapat diberikan reward dan yang tidak berhasil diberikan punished. Pandangan belajar ini sangat cocok diterapkan pada peserta didik yang masih memiliki tanggung jawab rendah berupa pemberian kontrol lingkungan dalam bentuk pengondisian, pembiasaan, peniruan, dan pemaksaan. Oleh karena tanggung jawab peserta didik dalam belajar rendah, maka guru dituntut tanggung jawab yang tinggi. Sebab, ia harus mengkondisikan peserta didiknya agar belajar. Pandangan supervisi pembelajaran pada dasarnya dikembangkan dari pandangan behavioristik tentang belajar. Dimana jika tanggung jawab seorang guru dalam mengembangkan dirinya sendiri masih rendah, perlu adanya keterlibatan yang tinggi dari supervisor. Dengan demikian, guru dapat dikondisikan dan dapat mengembangkan dirinya secara baik. Supervisi pembelajaran yang berorientasi direktif menampilkan perilaku-perilaku pokok yaitu klarifikasi, presentasi, demonstrasi, penegasan, standarisasi, dan penguatan. Hasil akhir dari supervisi ini berupa tugas guru.
Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Maisyaroh (2014) bahwa, pandangan supervisi direktif pada guru masuk dalam derajat abstraksi rendah dan derajat komitmen rendah (guru yang drop out), pendekatan supervisi yang tepat digunakan adalah direktif. Supervisor disini berperan banyak memberikan pengarahan kepada guru. Kegiatan supervisi, yaitu supervisor menginformasikan, mengarahkan, menjadi model, menetapkan patokan tingkah laku, dan menilai serta menggunakan insentif sosial dan material. Pada pendekatan ini, supervisor mengarahkan kegiatan untuk perbaikan pengajaran dan menetapkan standar perbaikan pengajaran dan penggunaan standar tersebut harus diikuti oleh guru. Pendekatan ini dianggap kurang efektif, karena tidak memberikan kesempatan kepada para guru untuk mengembangkan kreasi dan inovasi yang seharusnya mereka lakukan. Memang tidak dapat dipungkiri bahwasanya supervisor sangat memegang peranan atau bisa dikatakan kendali dari supervisi yang dilaksanakan.
 

Tujuan Supervisi Direktif

Menurut Afrijawidiya (2017: 329) pendekatan direktif ini bertujuan agar guru yang mengalami masalah perlu diberi rangsangan langsung agar ia bisa bereaksi. Dalam hal ini seorang supervisor ketika memberikan arahan tidak membatasi guru untuk berkreasi. Supervisi direktif ini terutama ditunjukkan untuk guru yang memiliki derajat kinerja rendah. Dalam hal ini supervisor lebih banyak
memberikan pengarahan terhadap guru untuk meningkatkan kemampuan mengajarnya.
sumber :