pemikiran konterfaktual

Pemikiran Konterfaktual

Misalnya Anda melaksanakan ujian penting; ketika Anda menerima hasilnya, nilainya adalah C —jauh lebih rendah dari yang Anda harapkan. Apa yang ada di benak Anda mengenai nilai Anda itu? Jika Anda seperti kebanyakan orang, Anda mungkin dengan cepat mulai membayangkan “apa yang akan terjadi seandainya…” yaitu mendapat nilai yang lebih tinggi —selain pemikiran tentang apa yang seharusnya perlu dilakukan agar dapat memperoleh hasil yang lebih baik. “Seandainya saya belajar lebih giat, atau datang ke kelas lebih sering”, Anda mungkin berpikir seperti ini. Kemudian, Anda mungkin mulai membuat perencanaan untuk bisa lebih baik pada ujian berikutnya.

Pemikiran tentang apa yang akan terjadi seandainya —dikenal dalam psikologi sosial sebagai pemikiran konterfaktual (counterfactual thinking) —muncul dalam berbagai situasi, tidak hanya pada situasi yang mengecewakan. Berpikir dengan meninjau kembali bisa melibatkan bayangan mengenai kemungkinan yang lebih baik (upward counterfactuals) atau mengenai kemungkinan yang lebih buruk (downward counterfactuals) dari yang kita alami.

Ketika memikirkan kemungkinan yang lebih baik daripada yang sebenarnya terjadi, hal ini berdekatan dengan penyesalan. Penyesalan semacam itu tampaknya lebih kuat intensitasnya ketika melibatkan hal – hal yang tidak kita lakukan tapi berharap kita telah melakukannya, dibandingkan dengan hal – hal yang sebenarnya telah kita lakukan tapi hasilnya tidak sesuai dengan keinginan kita (Gilovich && Medvec, 1994).

Mengapa terjadi seperti ini? Di antaranya karena ketika berpikir tentang hal – hal yang telah kita lakukan namun hasilnya buruk, kita tahu apa yang telah terjadi dan menemukan rasionalisasi atau alasan bagi hasil buruk tersebut. Namun ketika kita berpikir bahwa kita telah kehilangan kesempatan, situasinya menjadi sangat berbeda. Dengan berjalannya waktu, perlahan – lahan kita tidak lagi mengecilkan arti faktor – faktor penghambat kinerja pada waktu itu —faktor – faktor ini menjadi semakin kurang penting. Lebih buruk lagi, kita cenderung untuk membayangkan keuntungan yang menyenangkan yang akan kita peroleh, seandainya kita melakukan hal – hal yang seharusnya kita lakukan. Akibatnya : Semakin lama kita menyesal maka penyesalan tersebut kita semakin kuat dari waktu ke waktu dan dapat menghantui kita seumur hidup

(Medvec, Madey, & Gilovich, 1995).

Yang menarik, temuan terkini mengindikasikan bahwa orang – orang yang memulai bisnis mereka sendiri -wiraswastawan- memiliki kemungkinan yang lebih kecil untuk terlibat dalam pemikiran konterfaktual dan lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami penyesalan terhadap kehilangan kesempatan dibanding orang – orang lain (Baron, 2000). Ternyata, mereka percaya bahwa hilangnya kesempatan tidak berpengaruh : akan selalu ada kesempatan baru di tempat lain. Sejalan dengan ini, mereka tidak menghabiskan terlalu banyak waktu memikirkan apa yang akan terjadi seandainya mereka telah melakukan hal tertentu: mereka terlalu sibuk memikirkan apa yang akan datang!

Namun ini bukan satu – satunya efek dari konterfaktual. Seperti yang dilihat oleh Neal Roese (1977), psikolog sosial yang telah melakukan berbagai penelitian dapat berakibat pada banyak hal, di antaranya menguntungkan dan lainnya merugikan. Contohnya, tergantung pada fokus, pemikiran konterfaktual dapat berakibat pada peningkatan atau penurunan suasana hati saat ini. Jika individu membayangkan kemungkinan yang lebih baik, membandingkan hasil saat ini dengan kemungkinan yang lebih baik, hasilnya akan berupa perasaan tidak puas atau iri yang kuat, khususnya jika mereka merasa tidak mampu mencapai hasil yang lebih baik pada waktu yang akan datang (Sanna, 1977). Para atlet olimpiade yang memenangkan medali perak namun membayangkan memenangkan medali emas mengalami reaksi seperti itu (Medvec, Madey & Gilovich, 1995).

Selain itu, apabila individu membandingkan hasil mereka saat ini dengan kemungkinan yang lebih buruk, atau bila mereka mempertimbangkan berbagai cara agar dapat menghindari hasil yang mengecewakan dan memperoleh hasil yang positif, mereka dapat mengalami perasaan puas atau penuh harapan. Reaksi semacam itu ditemukan pada atlet – atlet olimpiade yang memenangkan medali perunggu yang kemudian membayangkan bagaimana rasanya bila ia tidak memenangkan medali sama sekali (misalnya dalam Gleicher, dll, 1995). Kesimpulannya, pemikiran konterfaktual dapat secara kuat berpengaruh terhadap kondisi afek kita (Medvec & Savitsky, 1997).

POS-POS TERBARU