Penyebaran Periwayatan Hadits Di Kota Mekkah dan Madinah

Penyebaran Periwayatan Hadits Di Kota Mekkah dan Madinah

Penyebaran Periwayatan Hadits Di Kota Mekkah dan Madinah

Penyebaran Periwayatan Hadits Di Kota Mekkah dan Madinah
Penyebaran Periwayatan Hadits Di Kota Mekkah dan Madinah

Setelah Nabi Saw Wafat

Setelah Nabi SAW wafat, yakni dalam periode Sahabat , para Sahabat tidak lagi mengurung diri di Madinah. Mereka telah mulai menyebar ke kota-kota lain selain Madinah. Intensitas penyebaran Sahabat ke daerah-daerah ini terlihat begitu besar terutama pada masa kekhalifahan ‘Utsman ibn ‘Affan, yang memberikan kelonggaran kepada para Sahabat untuk meninggalkan kota Madinah. Wilayah kekuasaan Islam pada periode ‘Utsman telah meliputi seluruh jazirah Arabia, wilayah Syam (Palestina, Yordania, Siria, dan Libanon), seluruh kawasan Irak, Mesir, Persia, dan kawasan Samarkand.

Pada umumnya, ketika terjadi perluasan daerah Islam, para Sahabat mendirikan masjid-masjid di daerah-daerah baru itu; dan di tempat-tempat yang baru itu sebagian dari mereka menyebarkan ajaran Islam dengan jalan mengajarkan Al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW kepada penduduk setempat. Dengan tersebarnya para Sahabat ke daerah-daerah disertai dengan semangat menyebarkan ajaran Islam, maka tersebar pulalah Hadits-Hadits Nabi SAW.

Penjelasan

Sejalan dengan kondisi di atas, dan dengan adanya tuntutan untuk mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat yang baru memeluk agama Islam, maka Khalifah ‘Utsman ibn ‘Affan, dan demikian juga Ali ibn Abi Thalib, mulai memberikan kelonggaran dalam periwayatan Hadits. Akibatnya, para Sahabat pun mulai mengeluarkan khazanah dan koleksi Hadits yang selama ini mereka miliki, baik dalam bentuk hafalan maupun tulisan. Mereka saling memberi dan menerima Hadits antara satu dengan yang lainnya, sehingga terjadilah apa yang disebut dengan iktsar rituayah al-Hadits (peningkatan kuantitas periwayatan Hadits). Keadaan yang demikian semakin menarik perhatian para penduduk di daerah setempat untuk datang menemui para Sahabat yang berdomisili di kota mereka masing- masing untuk mempelajari Al-Qur’an dan Hadits, dan mereka inilah yang kemudian dikenal sebagai generasi Tabi’in yang berperan dalam menyebarluaskan Hadits pada periode berikutnya.

Di antara kota-kota yang banyak terdapat para Sahabat dan aktivitas periwayatan Hadits adalah:

1. Madinah

Di kota Madinah ini terdapat para Sahabat yang mempunyai ilmu yang luas dan mendalam tentang Hadits, diantaranya Khulafa’ al-Rasyidin yang empat, ‘A’isyah r.a., ‘Abd Allah ibn ‘Umar, Abu Sa’id al-Khudri, Zaid ibn Tsabit dan lainnya.( Khudhari Bek, Tarikh Tasyri’ al-lslami (Kairo: Dar al-Fikr, 1967), h. 110) Di kota ini pula lahir beberapa nama besar dari kalangan Tabi’in, seperti Sa’id ibn Musayyab, TJrwah ibn Zubair, Ibn al-Syihab al-Zuhri, Ubaidillah ibn Utbah ibn Mas’ud, Salim ibn ‘Abd Allah ibn ‘Umar, Qasim ibn Muhammad ibn Abu Bakar, dan Nafi’ Maula ibn Umar.( ‘Ajjaj al-Khathib, al-Sunnah qabl al-Tadwin, h. 16)

2. Mekah

Selain di Madinah, periwayatan Hadits juga berkembang di kota-kota lain, seperti di Kota Mekah . Setelah kota Mekah ditaklukkan pada masa Rasul SAW, di sana ditunjuk Mu’adz ibn Jabal sebagai guru yang mengajari para penduduk setempat tentang masalah halal dan haram, dan memperkenalkan serta memperdalam pengetahuan mereka mengenai ajaran Islam dan sumber-sumbernya, yaitu Al- Qur’an dan Hadits. Peranan kota Mekah dalam hal penyebaran Hadits pada masa-masa selanjutnya adalah sangat signifikan, terutama pada musim-musim haji, suatu momentum di mana sebagian besar para Sahabat dapat saling bertemu antarsesamanya dan juga dengan para Tabi’in, dan mereka saling tukar-menukar Hadits yang mereka miliki, yang selanjutnya mereka bawa pulang ke daerah masing-masing. Di kota Mekah ini muncul para Ulama Hadits, seperti Mujahid, ‘Atha’ ibn Abi Rabah, Thawus ibn Kisan Ikrimah maula ibn Abbas, dan lain-lain.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/niat-sholat-fardhu/