Penyebaran Periwayatan Hadits

Penyebaran Periwayatan Hadits

Penyebaran Periwayatan Hadits

Penyebaran Periwayatan Hadits
Penyebaran Periwayatan Hadits

Kufah

Setelah Irak ditaklukkan pada masa Khalifah Umar ibn al-Khaththab, di kota Kufah tinggal sejumlah besar Sahabat, di antaranya ‘Ali ibn Abi Thalib, Sa’ad ibn Abi Waqqash, Sa’id ibn Zaid ibn ‘Amr ibn Nufail, ‘Abd Allah ibn Mas’ud, dan lain-lain. Ibn Mas’ud mempunyai peranan yang penting dalam penyebaran ajaran Islam, termasuk Hadits, di Kufah dan daerah sekitarnya. Ibn Qayyim menyebutkan bahwa penduduk Kufah khususnya dan Irak secara umum¬nya mendapatkan ilmu dari murid-murid Ibn Mas’ud. Terdapat sejumlah 60 orang murid Ibn Mas’ud di Kufah yang berperan dalam penyebaran Hadits. Di antara mereka adalah Kamil ibn Zaid al-Nakha’i, ‘Amir ibn Syurahil al- Syafii, Sa’id ibn Jubair al-Asadi, Ibrahim al-Nakha’i, dan lain-lain.

Basrah

Di kota Basrah terdapat sejumlah Sahabat, seperti Anas ibn Malik yang dikenal sebagai Imam fi al-Hadits di Basrah, Abu Musa al-Asy’ari, ‘Abd Allah ibn Abbas, dan lain-lain. Para Sahabat tersebut melahirkan tokoh-tokoh terkenal dari kalangan Tabi’in, seperti Al-Hasan al-Bashri dan Muhammad ibn Sirin.

Kota Lain

Di kota-kota lain, seperti Syam, Mesir, Yaman, Khurasan, juga terdapat sejumlah Sahabat yang aktif mengajar dan menyebarkan Hadits-Hadits Nabi SAW, yang pada tahapan selanjutnya melahirkan tokoh-tokoh Hadits dari kalangan Tabi’in yang berperan dalam penyebaran Hadits.(Ajjaj al-Khathib, Al-Sunnah Qabl al-Tadwin, h. 167)

Periwayatan Hadits pada masa Tabi’in umumnya masih bersifat dari mulut ke mulut (al-musyafahat), seperti seorang murid langsung memperoleh Hadits-Hadits dari sejumlah guru dan mendengarkan langsung dari penuturan mereka, dan selanjutnya disimpan melalui hafalan mereka. Perbedaannya dengan periode sebelumnya adalah, bahwa pada masa ini periwayatan Hadits sudah semakin meluas dan banyak sehingga dikenal istilah iktsar al-riwayah (pembanyakan riwayat). Dan, bahkan pada masa ini pulalah dikenal tokoh-tokoh Sahabat yang bergelar al-muktsirin (yang banyak memiliki Hadits) dalam bidang Hadits yang terdiri atas 7 orang dan di antaranya yang terbanyak adalah Abu Hurairah.( Ajjaj al-Khathib, Ushul al-Hadits. h. 404-405) Pada masa Tabi’in ini mulai dikenal pula apa yang disebut dengan rihlah, yaitu perjalanan yang dilakukan oleh seseorang dari satu kota ke kota lain dalam rangka mencari Hadits-Hadits yang diduga dimiliki oleh Sahabat yang bertempat tinggal di kota lain tersebut. Tradisi rihlah untuk mendapatkan Hadits sebenarnya telah meng¬akar pada Sahabat sejak zaman Rasul SAW. Namun, pada masa itu rihlah lebih bersifat umum untuk tujuan mencari informasi ajaran Islam yang dinilai “baru”. Umpamanya, diriwayatkan bahwa Dhamam ibn Tsa’labah pernah melakukan rihlah ke hadapan Nabi SAW guna mendengarkan Al-Qur’an dan ajaran Islam yang dibawa beliau sesaat setelah ia mengetahui adanya misi kerasulan Muhammad SAW. Dhamam kemudian kembali ke kaumnya segera setelah secara tulus menyatakan keislaman dirinya.( Ajjaj al-Khathib, Ushul al-Hadits h. 129)

Masa Sahabat

Pada masa Sahabat, Tabi’in, dan Tabi’i al-Tabi’in tradisi rihlah semakin berkembang dan terarah kepada kegiatan mencari dan mendapatkan Hadits secara khusus. Banyak di antara mereka yang menempuh perjalanan panjang dan melelahkan serta memakan waktu yang cukup lama untuk tujuan mendengarkan suatu Hadits atau mencek validitas Hadits tersebut, atau karena ingin bertemu dan bersilaturahmi dengan Sahabat untuk selanjutnya mendapatkan Hadits dari mereka. Yang terakhir ini umumnya dilakukan oleh para Tabiin. Dengan cara demikian, terjadilah pertukaran riwayat antara satu kota dengan kota yang lain.

Demikian uraian tentang penyebaran periwayatan hadits mudah-mudahan bermanfaat. Amiin.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/doa-sholat-dhuha-niat-dan-tata-caranya/