Politik Islam Masa Kemerdekaan

Politik Islam Masa Kemerdekaan

Politik Islam Masa Kemerdekaan

Politik Islam Masa Kemerdekaan
Politik Islam Masa Kemerdekaan

Masa Revolusi

Pada tanggal 6 agustus 1945 hirosima dibopm. Tanggal m7 agustus 1945 pemerintah jepang membentuk PPKI (panitia oersiapan kemerdekaan Indonesia). Soekarno, Hatta, dan Dr. Radjiman diundang menemui Marsekal Terauchi di Dalai (Vietnam). Tanggal 8 agustus 1945 Mansuria diduduki Rusia. Tanggal 9 agustus 1945 Nagasaki dibom. Hatta meminta soebardjo untuki mempersiapkan rapat PPKI yang akan diadakan tanggal 16 agustus 1945. Tanggal 15 agustus 1945 soebardjo dating kerumah hatta yang sedang membuat teks proklamasi.Soebardjo dan hatta kemudian pergi kerumah soekarno, disana ada beberapa pemuda yang memaksa soekarno mengumumkan kemerdekaan malam itu juga melalui radio. Karena soekarno menolak, Wikana (juru bicara pemuda) mengancam bahwa darah akan mengalir jika proklamasi tidak diumumkan, tetapi soekarno tetap menolak.

Ketika Soekarno tetap menolak para pemuda kecewa, tetapi mereka sadar tanpa Soekarno-hatta mereka tidak sanggup melancarkan revolusi. Oleh karena itu, akhirnya Soekarno-hatta diculik. Saat mereka baru saja selesai makan sahur tanggal 16 agustus 1945, dibawah pimpinan Soekarno, mereka dibawa ke Rengasdengklok. Di Jakarta, ketidak hadiaran Soekarno-hatta yang mengundang rapat PPKI menimbulkan kekhawatuiran. Namun, rupanya barisan peta (pemuda) tidak kompak sehingga yang semula merencanakan revolusi tidak terjadi. Akhirnya, salah seorang anggota peta menceritakan kepada soebardjo dan bersedia mengantar Soekarno-hatta ke Jakarta.

Soekarno-hatta diminta menemui Jenderal Nashimura yang dihadiri laksamana Maeda. Nashimura mengatakan bahwa ia tidak bertanggung jawab lagi karena panglima yang kalah perang. Oleh karena itu, akhirnya Soekarno-hatta membuat teks proklamasi yang disetuji oleh PPKI.Pada subuh jam 3 pagi 17 agustus 1945 teks proklamasi selesai dibuat, jam 10.00 dikumandangkan di Pegangsaan Timur 56.

Masa Mempertahankan Kemerdekaan

Dalam poroses membentuk dan mempertahankan Negara yang baru dicapai secara revolusi, Masyumi sebagai satu-satunya partai piltiuk yang berideologi islam pada saat itu memandang bahwa masyumi harus langsung terelibat dalam jabtan-jabatan kekuasaan Negara sebagai suatu jalan strategis untuk mewujudkan tujuan-tujuannya. Dengan cara demikian hokum-hukum Allah ttidak saja keluar dari ceramah-ceramah alim ulama’ dimimbar-mimbar masjid saja, tetapi juga berasal dari pejabat-pejabat pemerintah dan menjadi undang-undang. Untuk itu selam kehadirannya, masyumi merupakan partai yang terlibat dalam elit pemerintahan, antara lain dengan membentuk pemerintahan atau berkoalisi dengan poartai-partai lain, sehungga masyumi turut memainkan peranan dalam menetukan dasar politik Indonesia.

Masyumi memernkan politik yang menentukan pada dua kabinet Natsir April 1951, Sukiman Wiryosendjojo, kedua-duanya menjadi perdana menteri.Pada dua kabinet itu, Menteri Agama berada idtangan KH.Wahiud Hasyim (unsure NU dalam Masyumi) sedangkan pada kabinet Wilopo-Prawoto, KH. Fakih Usman (unsure Muhammadiyah dalam Masyumi). Dalam kabinet Wilopo, Masyumi mendapat empat kursi dalam pemerintahan.Pada kabinet ke-enam Burhanuddin Harahap, kembali lagi masyumi menjadi Perdana Menteri.Kabinet ini merupakan kabinet terakhir sebelum partai ini dibubarkan tahun 1960.Prestasi kabinet ini menghasilakan Pemilu pertama 1955 dalam sejarah Republik Indonesia, yaitu membubarkan Uni Indonesia- Belanda.Suatu keberanian yang perlu dicatat, adalah mengembalikan wibawa pemerintah terhadap Angkatan Darat.

Baca Juga: