Sejarah Tempe dan Perkembangannya

Sejarah Tempe dan Perkembangannya

Sejarah Tempe dan Perkembangannya

Sejarah Tempe dan Perkembangannya
Sejarah Tempe dan Perkembangannya

Sobat siapa sih yang tidak mengenal tempe? makanan yang satu ini memang sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia. Semua kalangan menyukai makanan yang terbuat dari kacang kedelai ini. Nah walaupun sudah setiap hari mengkonsumsi makanan ini, namun bagaimana asal usul dan sejarahnya tidak banyak yang mengetahui. Yuk baca terus artikel tentang Sejarah Tempe dan Perkembangannya ini

Makanan yang satu ini memang asli dari Indonesia. Tempe sudah dikonsumsi selama berabad-abad yang lalu dalam tatanan budaya masakan jawa khususnya Yogyakarta dan Surakarta. Namun tidak diketahui jelas kapan awal pembuatannya temp tersebut.

Penemuan nama tempe diketahui dalam manuskrip Serat Centhini pada bab 3 dan bab 12

Kata “tempe”, misalnya dengan penyebutan nama hidangan jae santen tempe (sejenis masakan tempe dengan santan) dan kadhele tempe srundengan. Sumber lain juga mengatakan bahwa awal pembuatan tempe berkembang pada era tanam paksa zaman penjajahan Belanda. Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa tempe oleh orang-orang Tionghoa yang memproduksi makanan sejenis, yaitu koji1 kedelai yang difermentasikan menggunakan kapang Aspergillus.

Tempe pada mulanya dibuat dengan menggunakan kedelai hitam

Kata tempe sendiri berasal dari bahasa Jawa Kuno. Pada zaman itu terdapat makanan yang disebut tumpi, berasal dari tepung sagu. Nah terdapat kesamaan antara tempe segar yang berwarna putih, dengan makanan tumpi tersebut.

Indonesia merupakan negara produsen tempe terbesar di dunia dan menjadi pasar kedelai terbesar di Asia. Sebanyak 50% dari konsumsi kedelai Indonesia dilakukan dalam bentuk tempe, 40% tahu, dan 10% dalam bentuk produk lain (seperti tauco, kecap, dan lain-lain). Konsumsi tempe rata-rata per orang per tahun di Indonesia saat ini diduga sekitar 6,45 kg.

Pada zaman pendudukan Jepang di Indonesia, para tawanan perang yang diberi makan tempe terhindar dari disentri dan busung lapar. Sejumlah penelitian yang diterbitkan pada tahun 1940-an sampai dengan 1960-an juga menyimpulkan bahwa banyak tahanan Perang Dunia II berhasil selamat karena tempe. Menurut Onghokham, tempe yang kaya protein telah menyelamatkan kesehatan penduduk Indonesia yang padat dan .

Namun, nama ‘tempe’ pernah digunakan di daerah perkotaan Jawa, terutama Jawa tengah, untuk mengacu pada sesuatu yang bermutu rendah. Istilah seperti ‘mental tempe’ atau ‘kelas tempe’ digunakan untuk merendahkan dengan arti bahwa hal yang dibicarakan bermutu rendah karena murah seperti tempe. Soekarno, Presiden Indonesia pertama, sering memperingatkan rakyat Indonesia dengan mengatakan, “Jangan menjadi bangsa tempe.” Baru pada pertengahan 1960-an pandangan mengenai tempe ini mulai berubah.

Pada akhir 1960-an dan awal 1970-an terjadi sejumlah perubahan dalam pembuatan tempe di Indonesia

Plastik (polietilena) mulai menggantikan daun pisang untuk membungkus tempe, ragi berbasis tepung (diproduksi mulai 1976 oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan banyak digunakan oleh Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia, Kopti mulai menggantikan laru tradisional, dan kedelai impor mulai menggantikan kedelai lokal. Produksi tempe meningkat dan industrinya mulai dimodernisasi pada tahun 1980-an, sebagian berkat peran serta Kopti yang berdiri pada 11 Maret 1979 di Jakarta dan pada tahun 1983 telah beranggotakan lebih dari 28.000 produsen tempe dan tahu.

Standar teknis untuk tempe telah ditetapkan dalam Standar Nasional Indonesia dan yang berlaku sejak 9 Oktober 2009 ialah SNI 3144:2009. Dalam standar tersebut, tempe kedelai didefinisikan sebagai “produk yang diperoleh dari fermentasi biji kedelai dengan menggunakan kapang Rhizopus sp., berbentuk padatan kompak, berwarna putih sedikit keabu-abuan dan berbau khas tempe”.

Selain berkembang di Indonesia, ternyata eksistensi tempe berkembang hingga ke masyarakat Eropa

Perkembangan tempe diprediksi dibawa melalui orang-orang Belanda pada tahun 1946. Sekitar tahun 1895, Prinsen Geerlings (ahli kimia dan mikrobiologi dari Belanda) melakukan usaha yang pertama kali untuk mengidentifikasi kapang tempe. Perusahaan-perusahaan tempe yang pertama di Eropa dimulai di Belanda oleh para imigran dari Indonesia.

Dari Belanda, tempe kemudian semakin berkembang di Eropa. Seperti di Amerika Serikat, pada tahun 1958 yang pertama kali dibawa oleh Yap Bwee Hwa, yang merupakan orang Indonesia yang pertama kali melakukan penelitian ilmiah mengenai tempe. Di Jepang, tempe diteliti sejak tahun 1926 tetapi baru mulai diproduksi secara komersial sekitar tahun 1983.

Sementara itu pada tahun 1984 sudah tercatat 18 perusahaan tempe di Eropa, 53 di Amerika, dan 8 di Jepang. Di beberapa negara lain, seperti Republik Rakyat Cina, India, Taiwan, Sri Lanka, Kanada, Australia, Amerika Latin, dan Afrika, tempe sudah mulai dikenal di kalangan terbatas. Nah Sobat jangan menyepelekan Tempe lagi ya. Karena ternyata eksistensinya diluar negeri cukup buming dan membanggakan.

Baca juga artikel: