Tradisi Ilmu Barat

Tradisi Ilmu Barat

Tradisi Ilmu Barat
Tradisi Ilmu Barat

Memaknai Barat tidak lagi relevan

jika dilihat dari perspektif geografis, yang menunjukkan suatu entitas wilayah, daerah atau kawasan yang berada di belahan bumi bagian Barat. Sebab, Barat saat ini berada dalam sebuah struktur konseptual pandangan hidup yang membawa makna yang kompleks dan terkadang kontroversial.

Saat ini barat bermakna alam pikiran dan pandangan hidup dari suatu kebudayaan dan peradaban. Jadi dari kaca mata peradaban, Barat adalah peradaban yang dibentuk dan dibangun oleh pandangan hidupnya sendiri (Worldview).

Sebuah kebudayaan atau peradaban memiliki sejarahnya sendiri-sendiri untuk bangkit dan berkembang. Pada umumnya sarjana Barat membagi sejarah Barat menjadi zaman kuno, zaman pertengahan, dan zaman modern. Para sejarawan Barat berbeda pendapat mengenai asal usul kebudayaan mereka. Perbedaan itu meruncing ketika sejarawan berpegang pada ilmu sebagai akar kebudayaan. Artinya sebuah kebudayaan atau peradaban akan lahir dan berkembang seiring dengan perkembangan konsep-konsep keilmuan didalamnya. Sebab faktor keilmuan inilah sebenarnya yang melahirkan aktivitas sosial, politik, ekonomi dan aktivitas kultural lainnya.

Akan tetapi secara historis Barat adalah merupakan suatu peradaban yang dikembangkan oleh bangsa-bangsa Eropa dari peradaban Yunani kuno yang dikawinkan dengan peradaban Romawi, dan disesuaikan dengan elemen-elemen kebudayaan bangsa Eropa terutamanya Jerman, Inggris dan perancis. Prinsip-prinsip rmengenai ketatanegaraan diambil dari Romawi, sementara Agama Kristen yang berasal dari Asia Barat disesuaikan dengan budaya Barat.

Ilmu di Barat tidak lahir dari pandangan hidup (worldview) Agama tertentu

sebab hubungan Agama dan sains di Barat memang problematik.[49] Setidaknya ada tiga faktor penting yang membuat Barat jauh dari nilai-nilai Agama. Pertama, trauma sejarah, khusunya yang berhubungan dengan Agama (Kristen) di zaman pertengahan. Dalam perjalanan sejarahnya, peradaban Barat (Western Civilization) telah mengalami masa yang pahit, yang mereka sebut “zaman kegelapan” (the dark ages). Zaman itu dimulai ketika Imperium Romawi Barat runtuh pada 476 dan mulai munculnya Gereja Kristen sebagai institusi dominan, dalam masyarakat Kristen Barat sampai dengan masuknya zaman reneissance sekitar abad ke 14.[50] Besarnya kekuasaan Gereja melahirkan penyimpangan dan penindasan brutal terhadap non Kristen dan kelompok-kelompok yang dianggap kafir.

Bentuk kekejaman yang dilakukan oleh pihak Gereja diungkapkan oleh Peter De Rosa “betapapun, inquisisi tersebut bukan jahat saat dibandingkan nilai-nilali abad 20. Tetapi ini juga jahat dibandingkan degan nilai-nilai abad ke-10 dan ke-11, ………………………………………………………………………………………………………………………” Hal inilah yang menjadikan barat menjadi trauma terhadap Agama.

Kedua, problem teks Bible. Ada sebagian kalangan yang mencoba menyamakan antara Al Qur’an dan Bible dengan menyatakan, bahwa semuanya adalah kitab suci dan semuanya mukjizat. Padahal ilmuan Barat yang jeli bisa membedakan antara kedua kitab agama itu. Teks al Qur’an tidak mengalami problema sebagaimana teks Bible. Di dalam Bible terdapat problema yang hingga saat ini masih menjadi mesteri. Richard Elliot Freidman dalam bukunya, Who wrote the Bible, menulis, bahwa hingga kini siapa yang sebenarnya menulis kitab ini masih merupakan misteri dan banyak kontradiksi di dalamnya.

Ketiga, problem teologi Kristen. Inti seluruh permasalahan kristologi di dunia Barat berasal dari kenyataan bahwa di dunia Barat, Tuhan menjadi suatu problem pemikiran ilmuwan Barat yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia.

Sehingga teori ilmu yang berkembang di Barat termanifestasikan dalam berbagai aliran seperti rasionalisme, empirisisme, skeptisisme, agnotisisme, positivisme, objektifisme, subjektifisme, dan relativisme.

Aliran-aliran semacam ini berimplikasi sangat serius dalam; Pertama, menegasikan dan memutuskan relasi manusia dengan alam metafisik, mengosongkan kehidupannya dari unsur-unsur dan nilai transenden serta mempertuhankan manusia. Kedua, melahirkan dualisme, manusia terjebak pada dua hal yang dikotomis dan tak dapat dipersatukan, antara dunia-akhirat, Agama-sains, tekstual-kontekstual, akal-wahyu, dan seterusnya. Ini mengakibatkan manusia yang tebelah jiwanya (split personality).

Baca Juga: